Makhluk Ciptaan Pikiran
Aku bukan pencita hal yang mistis,
tidak seperti Roge adikku. Di hidupnya yang aneh, dia tahu berbagai macam buku,
permainan, tempat yang pokoknya judulnya mistis. Kali ini ia memberitahuku cara
membuat makhluk hidup ciptaan pikiran. Aneh-aneh saja adikku satu ini.
“Iya, aku akan mencobanya. Caranya
memang agak susah. Tapi aku pasti bisa. Aku akan membuat anjing. Nanti, aku
kasih nama Orge,” katanya di suatu pagi. Aku yang tidak beminat mendengar
khayalannya hanya bisa mengiyakan.
“Terserah. Tapi jangan sangat
mengganggu kehidupan orang lain.”
“Tenang, aku buatnya di kehidupanku sendiri,
pas tidur.”
Aku hanya mengangguk, benar-benar,
bagaimana ia bisa menjadi adikku? Hari berganti hari. Ada hal yang tidak biasa
di kamar yang ku tempati bersama adikku. Bayangan hitam yang berada di luar
jendala kamar. Kamarku berada di lantai 2 dan tidak mungkin juga itu bayangan
pohon. Bayang itu mirip anjing, ya anjing herder tepatnya. Segera ku tanya
adikku.
“Proyekmu berhasil?”
“Proyek apa?”
“Yang kau bilang beberapa hari yang
lalu.”
“Oh itu, iya donk. Kok kakak bisa
lihat? Kayaknya cuma ada 2 orang yang bisa lihat dia. Ah… Kakak pasti lihat
prosesnya ya??”
“Kamu ini, ya enggaklah. Kok katamu
ada 2 orang?”
“Iya kak. Di dunia ini, sangat
mungkin 2 orang bahkan lebih bisa memikirkan hal yang sama dan pada saat yang
sama.”
“Jadi kalian berdua penciptanya.
Berarti cuma ada 1 anjing. Kok dia bisa ada sama kamu?”
“Pencipta yang kedua itu jahat.
Untung aku berhasil menyelamatkannya. Ia berencana membunuh Orge. Kalau kakak
tanya kok kandangnya ada di luar jendela karena kamar kita sempit.”
Aku tetap bingung meskipun sudah
dijelaskan panjang lebar. Akhirnya ku putuskan dia hanya mengarang indah dan
segera melupakannya. Ternyata kejadian aneh tidak hanya sampai di situ. Pada
suatu malam, aku memimpikan suatu hal yang berkaitan dengan Orge. Di mimpiku,
aku sedang berada di kamarku. Cahaya sangat minim di sana, tapi aku bisa
melihat adikku sedang memeluk Orge dengan sangat sedih. Tiba-tiba terdengar
suara tembakan.
DOR
Aku kaget bukan main. Segera aku
teriak memanggil adikku. Dengan suara berbisik ia meminta ku tetap tenang, atau
mungkin orge, anjing yang melas itu untuk tenang. Kembali terdengar suara
tembakan.
DOR
Orge segera melepaskan diri dan berlari keluar jendela.
Jangan tanya mengapa ia keluar. Segera setelah ia keluar, menyusul suara
tembakan dan suara tawa seoraang pria dengan agak berat. Segera aku menutup
mukaku dengan bantal.
Aku terkejut, saat aku membuka mata, bantal yang seharusnya
ada di mukaku, sekarang ada di bawah kepalaku dan hari pun sudah pagi. Ku kira
ini hanya mimpi anehku. Tapi saatku lihat adikku, ia tampak sedih dan lemas.
Aku masih takut melihat jendela. Jadi aku segera mengambil handuk dan mandi.
“Andi, Roge, ayo cepat!” Seru ayah kami dari depan rumah.
Saat hendak menghampiri ayah, aku melihat pembantu kami Pak Bemtun sedang
mengelap jendela kami.
“Tumben ngelap jendela kamar kami, Pak Bem.”
“Iya ada bercak darah agak banyak.” Katanya sambil terus
mengelap.
“Darah?” Aku amat heran.
“Iya, darah hewan kayaknya.”
“Ooo…” Seru sambil berusaha menyembunyikan rasa terkejutku
dan segera menaiki motor ayahku. Selama perjalanan aku merasa antara bingung
dan kosong. Aku tidak mengerti.
Natasya Citra - IXC
Narasumber: Suatu tulisan dalam buku tua
sangat menarik sekali cerita fiksinya...
BalasHapus