Kamis, 10 September 2015

Mae Nak Phra Khanong

Heyyo guys!! welcome back again.. I want to share another story, and this time was based on a true story from Thailand
Cerita ini menceritakan tetang kisah percinta yang sejati, yang setia sehidup semati


Mae Nak Phra Khanong



Bagi kalian penggemar film horror Thailand pasti udah tau sama film horror Thailand yang berjudul MAE NAK , film ini udah beberapa kali di re-make atau dibuat ulang, namun tau kah kalian bahwa film berkisahkan cinta sejati ini berdasarkan kisah nyata?



Kisah ini telah dibuat dalam beberapa film sejak era film bisu dengan salah satu yang paling terkenal adalah Mae Nak Phra Khanong pada tahun 1958 . Legenda ini juga diadaptasi menjadi sebuah opera, Mae Nak, oleh komposer Thailand Somtow Sucharitkul . Tahun 1999 film Nang Naak diremake oleh sutradara asal kerajaan Thailand Nonzee Nimibutr. Sineas asal Britania Raya Mark Duffeld menyutradarai ulang pada tahun 2005 dengan judul Nâak Rák Táe (Cinta Sejati Naak). Dan terakhir diremake ulang pada tahun 2012 lalu dalam format 3D.
Mae Nak Phrakhanong adalah kisah hantu terkenal yang menjadi favorit di antara rakyat Thailand. Bercerita tentang kehidupan hantu istri yang setia dan suami yang tidak curiga bahwa istrinya adalah hantu.

Berikut kisah legenda hantu Thailand tersebut..

Seabad lalu, pada masa pemerintahan Raja Mongkut (1851-1868), saat Bangkok masih disebut “Venesia dari Timur Jauh, ada gadis cantik bernama Nang Naak. Nang Naak jatuh cinta pada pemuda tampan bernama Nai Maak. Mereka tumbuh bersama didesa yang sama, namun hubungan keduanya mendapat tentangan dari keluarga Maak, yang dikisahkan berasal dari keluarga kaya. Sedangkan Naak, hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak peduli pada kerikil atau lancarnya hubungan itu, mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bersama. Tak lama setelah pernikahan itu, Nai Maak kemudian menjadi sukarelawan wajib militer berperang melawan Cina, ia meninggalkan istri yang mengandung anaknya dengan kesedihan dan ketakutan yang mungkin akan muncul. Karena luka parah yang diderita Maak akibat peperangan, ia kemudian mendapatkan perawatan yang cukup lama disebuah kuil. Sebagai istri yang setia, Mae (nyonya) Naak selalu menantikan saat2 kembalinya sang suami, namun hari tersebut tidak pernah ada hingga akhir hayatnya.

Berbulan bulan setelah kepergiannya, hari itu Maak kembali ke desanya, sungai yang membelah daratan dimana ditepian sungai tersebut rumahnya berada, telah disusurinya. Kampung itu nampak sepi dan sunyi, ada rasa ragu dihatinya, kemana penduduk desanya? Kenapa begitu sunyi? Namun keraguan itu tak berlangsung lama ketika sosok perempuan yang sedang duduk dimuka rumah panggungnya ditepi sungai. Ia duduk menimang bayinya. Ia yakin itu adalah Naak, istrinya dan bayi itu pastilah putranya yang lahir ketika ia berperang. Perahunya mendekat, ia tak sabar ingin segera menyapa istri dan anaknya yang telah ia tinggalkan berbulan bulan lamanya. Maak menyapa dan memeluk istri dan bayi mereka dengan suka cita, namun istrinya tidak banyak bicara, hanya sorot matanya yang sayu melukiskan kerinduan yang amat dalam pada suaminya. Pertemuan yang agak aneh itu terjadi sangat cepat namun mengesankan. Keluarga itu kembali berkumpul dan berbahagia.

Kehidupan selanjutnya bukanlah hal yang mudah bagi Maak, hari harinya penuh dengan mimpi buruk karena trauma perang. Namun demikian, sebagai istri yang baik, Naak selalu melayani suaminya dengan sebaik-baiknya. Hari berganti hari, bulan berjalan, suatu pagi terlihat oleh Maak kepala biara datang bersama beberapa pendeta muda lain menuju rumahnya. Kepala pendeta itu melihat suasana rumah Maak yang lusuh, berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, seperti rumah yang tak berpenghuni sekian lama. Kepala pendeta telah mendengar kembalinya Maak selesai berperang, namun yang membuat kepala pendeta tsb cemas adalah cerita penduduk yang dulu pernah menjadi tetangga dekat di kampung yang sama dengan Maak. Bahwa mereka meninggalkan kampung Maak disepanjang tepian sungai karena hantu Naak yang sering bergentayangan menyebar terror di kampung mereka.

Mae Naak sebetulnya telah meninggal berbulan-bulan yang lalu jauh sebelum suaminya kembali dari perang. Dan sesungguhnya Maak telah pulang kerumah yang tak berpenghuni. Lalu siapa yang selama ini menemani dan merawat dia? Apakah betul istrinya Mae Naak? Saat hatinya galau, kepala pendeta itu menyuruhnya untuk melihat Naak yang saat itu sedang memasak dibelakang rumah, dengan cara membungkukkan badan dan melihat siapa Naak sebenarnya diantara kedua kaki yang dibentangkan. Yang terlihat kemudian oleh Maak adalah peralatan memasak itu bergerak sendiri, tidak ada seorangpun disana. Jadi selama ini hantu Naak telah mengelabui penglihatan Maak. Rumah yang selama ini dia lihat begitu bersih dan sejuk tiba-tiba nyata terlihat seperti yang disaksikan kepala pendeta itu: lusuh, berdebu, sangat kotor dan hampa. Lalu bagaimana ia meninggal? Pendeta itu berkisah: Saat hari bersalin tiba, dalam badai Naak berusaha melahirkan bayinya, namun persalinan itu berakhir dengan kematian, bayi itu mati bersama ibunya. Naak meninggal dalam kesedihan dan kerinduan. Para tetangga yang bersimpati menguburkan mereka secara baik-baik, tapi arwah Naak tetap bergentayangan. Ketika Maak kembali dari perang, hantu Naak menjelma menjadi manusia. Kisah cinta misterius itu serta merta berubah menjadi adegan horror.

Begitu mendengar kenyataan yang telah dikisahkan Kepala Pendeta, Maak lari dan tersadar bahwa selama ini, ia telah hidup bersama hantu istri dan bayinya. Hantu Naak terus mengikuti kemanapun Maak pergi. Selama perburuan itu hantu Naak berlaku brutal dan tidak segan membunuh siapa saja yang menghalanginya. Penduduk desa kemudian mendatangkan dukun, para pemuka agama bahkan pengusir setan yang dari berbagai penjuru di Thailand untuk melawan hantu Naak, namun usaha itu sia sia. Hantu itu terus mebunuh siapa saja yang menghalanginya bahkan para pendeta yang sedang mengamankan Maak di dalam kuil.
Akhirnya seorang pendeta muda yang datang dari daerah yang cukup jauh berhasil mendamaikan arwah penasaran Naak, beberapa versi legenda ini percaya, dialah Somdej Phra Puttajan dari Thonburi, kabarnya ia menggali kembali kubur Naak dan memberi semacam pasak yang konon ditinggalkan oleh Pangeran dari Chumporn. Pasak bertali itu kemudian dililitkan di kepala Naak, dan lenyap kedalam tengkoraknya.
Nai Maak yang berduka kemudian memutuskan untuk menjadi pendeta

Sekarang tempat pemakaman Nang Naak menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru di Thailand bahkan turis manca negara. Makam itu terletak di batas kompleks kuil Mahabute di On Nut, Sukumvit Soi 77, Bangkok. Kini, baik kuil maupun penduduk yang tinggal disekitarnya mendapatkan rejeki dari kepopuleran legenda Nang Naak. Kuil ini dibangun layaknya sebuah rumah bagi Nang Naak dan anaknya, dan bukan sebuah kuil konvensional. Banyak buket-buket bunga, kosmetik, mainan, popok bayi, dan botol susu sebagai hadiah untuk anaknya. Bahkan, yang menarik disini adalah TV yang selalu dibiarkan menyala, karena masyarakat yakin Nang Naak masih tetap ada di tempat itu.
Kebanyakan orang yang datang, meminta petunjuk akan peruntungan karena wanita ini dikenal mampu memenangkan lotere. Tak heran, di luar kuil banyak pedagang menjual tiket lotere, peramal keberuntungan, dan penjual ikan emas (sebagai simbol nasib baik). Tidak hanya mereka yang mencari kemenangan undian, namun kuil ini juga populer untuk pria-pria yang hendak pergi wajib militer. Nang Naak juga dikenal mampu menghilangkan berbagai hambatan hidup, sehingga berbagai kalangan usia datang ke tempat ini. Namun wanita yang meminta kesuburan atau wanita yang sedang hamil, dianjurkan untuk menghindari tempat ini karena berbagai alasan tertentu.

Kania A - IX C
Source : terselubungi.com

Tomino no Jigoku (Neraka Tomino)

Hey guys! welcome back heree.. kali ini gw akan mengulas sedikit ceita tentang puisi kematian yg lebih tepatnya urban legend dari Jepang.
SO HERE WE GO!!

Misteri Puisi Kematian Tomino




Sebuah kisah seram datang dari Jepang. Tentang sebuah puisi berjudul "Tomino no Jigoku" atau Neraka Tomino, berisikan lirik-lirik mengerikan. Jangan pernah membaca dengan suara lantang, cukup di dalam hati. Atau kamu siap memanggil kematian datang menghampiri.
Kisah menyeramkan puisi Tomino berkembang di kalangan masyarakat Jepang dan menjadi salah satu legenda urban. Ada sebuah cerita yang membuat kita semakin merinding sehubungan dengan asal-muasal puisi ini.

Tomino adalah seorang gadis kecil yang terlahir cacat. Ia menuliskan puisi yang kemudian ditunjukkan kepada orang tuanya. Melihat isi puisi Tomino yang menyeramkan, orang tuanya menghukum Tomino dengan mengurungnya dalam gudang sempit dan tidak memberinya makan. Beberapa hari kemudian, Tomino meninggal dengan tidak wajar.

Konon, semenjak peristiwa itu puisi buatan Tomino jadi menyeramkan. Cerita dari mulut ke mulut berkembang dan memperingatkan, jangan pernah membaca dengan suara lantang karena bakal mengundang bencana.

Kemungkinan cerita yang berkembang di atas hanya sebatas kisah urban. Puisi berjudul "Neraka Tomino" sendiri sebenarnya dimuat dalam buku kompilasi puisi Yomota Inuhiko "The Heart is Like a Rolling Stone" (心は転がる石のように). Di dalamnya memuat berbagai koleksi puisi, termasuk puisi "Tomino no Jigoku" karya Saizo Yaso dari tahun 1919. Nah, entah bagaimana sehingga puisi tersebut berkembang menjadi legenda urban nan menyeramkan.

Nah, buat kalian yang penasaran sama puisinya, ini gw ada puisi berserta artinya.
Sekedar saran, lebih baik baca dalam hati aja ya.

Tomino no Jigoku


ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku, kawaii tomino wa tama wo haku hitori jihoku ni ochiyuku tomino, jigoku kurayami hana mo naki.

muchi de tataku wa tomino no aneka, muchi no shubusa ga ki ni kakaru.

tatake yatataki yare tataka zutotemo, mugen jigoku wa hitotsu michi. kurai jigoku e anai wo tanomu, kane no hitsu ni, uguisu ni. kawa no fukuro ni yaikura hodoireyo, mugen jigoku no tabishitaku.

haru ga kitesoru hayashi ni tani ni, kurai jigoku tanina namagari. kagoni yauguisu, kuruma ni yahitsuji, kawaii tomino no me niya namida. nakeyo, uguisu, hayashi no ame ni imouto koishi to koe ga giri.

nakeba kodama ga jigoku ni hibiki, kitsunebotan no hana ga saku. jigoku nanayama nanatani meguru, kawaii tomino no hitoritabi.

jigoku gozarabamo de kitetamore, hari no oyama no tomebari wo. akai tomehari date niwa sasanu, kawaii tomino no mejirushini.

======================================================================


Neraka Tomino


Kakak yang memuntahkan darah, adik yang meludahkan api Tomino yang lucu meludahkan permata yang berharga

Tomino meninggal sendirian dan terjatuh ke dalam neraka Neraka kegelapan, tanpa dihiasi bunga

Apakah itu kakak Tomino memegang cambuk? Jumlah bekas luka berwarna merah sangatlah mengkhawatirkan Dicambuk ,BRdan dipukul sangatlah mendebarkan,

Jalan menuju neraka yang kekal hanyalah salah satu cara Mohon bimbingan ke dalam neraka kegelapan,

Dari domba emas, dan dari burung bulbul Berapa banyak yang tersisa dari dalam bungkusan kulit, Disiapkan untuk perjalanan tak berujung menuju neraka

Musim semi akan segera datang ke dalam hutan serta lembah, Tujuh tingkat di dalam gelapnya lembah neraka

Dalam kandang burung bulbul, dalam gerobak domba, Di Mata Tomino Yang Lucu Meneteskan airmata tangisan burung bulbul, dibalik hujan dan badai Menyuarakan cintamu untuk adik tersayangmu

Gema tangisanmu melolong melalui neraka, serta darah memekarkan bunga merah

Melalui tujuh gunung dan lembah neraka, Tomino yang lucu berjalan sendirian Untuk menjemputmu ke neraka,

Duri-duri berkilauan dari atas gunung menancapkan duri ke dalam daging yang segar, Sebagai tanda untuk Tomino yang lucu.

Gimana? apa kalian berani membacanya dengan lantang?

Kania A - IX C
Source : www.apakabardunia.com