Kamis, 10 September 2015

Mae Nak Phra Khanong

Heyyo guys!! welcome back again.. I want to share another story, and this time was based on a true story from Thailand
Cerita ini menceritakan tetang kisah percinta yang sejati, yang setia sehidup semati


Mae Nak Phra Khanong



Bagi kalian penggemar film horror Thailand pasti udah tau sama film horror Thailand yang berjudul MAE NAK , film ini udah beberapa kali di re-make atau dibuat ulang, namun tau kah kalian bahwa film berkisahkan cinta sejati ini berdasarkan kisah nyata?



Kisah ini telah dibuat dalam beberapa film sejak era film bisu dengan salah satu yang paling terkenal adalah Mae Nak Phra Khanong pada tahun 1958 . Legenda ini juga diadaptasi menjadi sebuah opera, Mae Nak, oleh komposer Thailand Somtow Sucharitkul . Tahun 1999 film Nang Naak diremake oleh sutradara asal kerajaan Thailand Nonzee Nimibutr. Sineas asal Britania Raya Mark Duffeld menyutradarai ulang pada tahun 2005 dengan judul Nâak Rák Táe (Cinta Sejati Naak). Dan terakhir diremake ulang pada tahun 2012 lalu dalam format 3D.
Mae Nak Phrakhanong adalah kisah hantu terkenal yang menjadi favorit di antara rakyat Thailand. Bercerita tentang kehidupan hantu istri yang setia dan suami yang tidak curiga bahwa istrinya adalah hantu.

Berikut kisah legenda hantu Thailand tersebut..

Seabad lalu, pada masa pemerintahan Raja Mongkut (1851-1868), saat Bangkok masih disebut “Venesia dari Timur Jauh, ada gadis cantik bernama Nang Naak. Nang Naak jatuh cinta pada pemuda tampan bernama Nai Maak. Mereka tumbuh bersama didesa yang sama, namun hubungan keduanya mendapat tentangan dari keluarga Maak, yang dikisahkan berasal dari keluarga kaya. Sedangkan Naak, hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak peduli pada kerikil atau lancarnya hubungan itu, mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bersama. Tak lama setelah pernikahan itu, Nai Maak kemudian menjadi sukarelawan wajib militer berperang melawan Cina, ia meninggalkan istri yang mengandung anaknya dengan kesedihan dan ketakutan yang mungkin akan muncul. Karena luka parah yang diderita Maak akibat peperangan, ia kemudian mendapatkan perawatan yang cukup lama disebuah kuil. Sebagai istri yang setia, Mae (nyonya) Naak selalu menantikan saat2 kembalinya sang suami, namun hari tersebut tidak pernah ada hingga akhir hayatnya.

Berbulan bulan setelah kepergiannya, hari itu Maak kembali ke desanya, sungai yang membelah daratan dimana ditepian sungai tersebut rumahnya berada, telah disusurinya. Kampung itu nampak sepi dan sunyi, ada rasa ragu dihatinya, kemana penduduk desanya? Kenapa begitu sunyi? Namun keraguan itu tak berlangsung lama ketika sosok perempuan yang sedang duduk dimuka rumah panggungnya ditepi sungai. Ia duduk menimang bayinya. Ia yakin itu adalah Naak, istrinya dan bayi itu pastilah putranya yang lahir ketika ia berperang. Perahunya mendekat, ia tak sabar ingin segera menyapa istri dan anaknya yang telah ia tinggalkan berbulan bulan lamanya. Maak menyapa dan memeluk istri dan bayi mereka dengan suka cita, namun istrinya tidak banyak bicara, hanya sorot matanya yang sayu melukiskan kerinduan yang amat dalam pada suaminya. Pertemuan yang agak aneh itu terjadi sangat cepat namun mengesankan. Keluarga itu kembali berkumpul dan berbahagia.

Kehidupan selanjutnya bukanlah hal yang mudah bagi Maak, hari harinya penuh dengan mimpi buruk karena trauma perang. Namun demikian, sebagai istri yang baik, Naak selalu melayani suaminya dengan sebaik-baiknya. Hari berganti hari, bulan berjalan, suatu pagi terlihat oleh Maak kepala biara datang bersama beberapa pendeta muda lain menuju rumahnya. Kepala pendeta itu melihat suasana rumah Maak yang lusuh, berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, seperti rumah yang tak berpenghuni sekian lama. Kepala pendeta telah mendengar kembalinya Maak selesai berperang, namun yang membuat kepala pendeta tsb cemas adalah cerita penduduk yang dulu pernah menjadi tetangga dekat di kampung yang sama dengan Maak. Bahwa mereka meninggalkan kampung Maak disepanjang tepian sungai karena hantu Naak yang sering bergentayangan menyebar terror di kampung mereka.

Mae Naak sebetulnya telah meninggal berbulan-bulan yang lalu jauh sebelum suaminya kembali dari perang. Dan sesungguhnya Maak telah pulang kerumah yang tak berpenghuni. Lalu siapa yang selama ini menemani dan merawat dia? Apakah betul istrinya Mae Naak? Saat hatinya galau, kepala pendeta itu menyuruhnya untuk melihat Naak yang saat itu sedang memasak dibelakang rumah, dengan cara membungkukkan badan dan melihat siapa Naak sebenarnya diantara kedua kaki yang dibentangkan. Yang terlihat kemudian oleh Maak adalah peralatan memasak itu bergerak sendiri, tidak ada seorangpun disana. Jadi selama ini hantu Naak telah mengelabui penglihatan Maak. Rumah yang selama ini dia lihat begitu bersih dan sejuk tiba-tiba nyata terlihat seperti yang disaksikan kepala pendeta itu: lusuh, berdebu, sangat kotor dan hampa. Lalu bagaimana ia meninggal? Pendeta itu berkisah: Saat hari bersalin tiba, dalam badai Naak berusaha melahirkan bayinya, namun persalinan itu berakhir dengan kematian, bayi itu mati bersama ibunya. Naak meninggal dalam kesedihan dan kerinduan. Para tetangga yang bersimpati menguburkan mereka secara baik-baik, tapi arwah Naak tetap bergentayangan. Ketika Maak kembali dari perang, hantu Naak menjelma menjadi manusia. Kisah cinta misterius itu serta merta berubah menjadi adegan horror.

Begitu mendengar kenyataan yang telah dikisahkan Kepala Pendeta, Maak lari dan tersadar bahwa selama ini, ia telah hidup bersama hantu istri dan bayinya. Hantu Naak terus mengikuti kemanapun Maak pergi. Selama perburuan itu hantu Naak berlaku brutal dan tidak segan membunuh siapa saja yang menghalanginya. Penduduk desa kemudian mendatangkan dukun, para pemuka agama bahkan pengusir setan yang dari berbagai penjuru di Thailand untuk melawan hantu Naak, namun usaha itu sia sia. Hantu itu terus mebunuh siapa saja yang menghalanginya bahkan para pendeta yang sedang mengamankan Maak di dalam kuil.
Akhirnya seorang pendeta muda yang datang dari daerah yang cukup jauh berhasil mendamaikan arwah penasaran Naak, beberapa versi legenda ini percaya, dialah Somdej Phra Puttajan dari Thonburi, kabarnya ia menggali kembali kubur Naak dan memberi semacam pasak yang konon ditinggalkan oleh Pangeran dari Chumporn. Pasak bertali itu kemudian dililitkan di kepala Naak, dan lenyap kedalam tengkoraknya.
Nai Maak yang berduka kemudian memutuskan untuk menjadi pendeta

Sekarang tempat pemakaman Nang Naak menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru di Thailand bahkan turis manca negara. Makam itu terletak di batas kompleks kuil Mahabute di On Nut, Sukumvit Soi 77, Bangkok. Kini, baik kuil maupun penduduk yang tinggal disekitarnya mendapatkan rejeki dari kepopuleran legenda Nang Naak. Kuil ini dibangun layaknya sebuah rumah bagi Nang Naak dan anaknya, dan bukan sebuah kuil konvensional. Banyak buket-buket bunga, kosmetik, mainan, popok bayi, dan botol susu sebagai hadiah untuk anaknya. Bahkan, yang menarik disini adalah TV yang selalu dibiarkan menyala, karena masyarakat yakin Nang Naak masih tetap ada di tempat itu.
Kebanyakan orang yang datang, meminta petunjuk akan peruntungan karena wanita ini dikenal mampu memenangkan lotere. Tak heran, di luar kuil banyak pedagang menjual tiket lotere, peramal keberuntungan, dan penjual ikan emas (sebagai simbol nasib baik). Tidak hanya mereka yang mencari kemenangan undian, namun kuil ini juga populer untuk pria-pria yang hendak pergi wajib militer. Nang Naak juga dikenal mampu menghilangkan berbagai hambatan hidup, sehingga berbagai kalangan usia datang ke tempat ini. Namun wanita yang meminta kesuburan atau wanita yang sedang hamil, dianjurkan untuk menghindari tempat ini karena berbagai alasan tertentu.

Kania A - IX C
Source : terselubungi.com

Tomino no Jigoku (Neraka Tomino)

Hey guys! welcome back heree.. kali ini gw akan mengulas sedikit ceita tentang puisi kematian yg lebih tepatnya urban legend dari Jepang.
SO HERE WE GO!!

Misteri Puisi Kematian Tomino




Sebuah kisah seram datang dari Jepang. Tentang sebuah puisi berjudul "Tomino no Jigoku" atau Neraka Tomino, berisikan lirik-lirik mengerikan. Jangan pernah membaca dengan suara lantang, cukup di dalam hati. Atau kamu siap memanggil kematian datang menghampiri.
Kisah menyeramkan puisi Tomino berkembang di kalangan masyarakat Jepang dan menjadi salah satu legenda urban. Ada sebuah cerita yang membuat kita semakin merinding sehubungan dengan asal-muasal puisi ini.

Tomino adalah seorang gadis kecil yang terlahir cacat. Ia menuliskan puisi yang kemudian ditunjukkan kepada orang tuanya. Melihat isi puisi Tomino yang menyeramkan, orang tuanya menghukum Tomino dengan mengurungnya dalam gudang sempit dan tidak memberinya makan. Beberapa hari kemudian, Tomino meninggal dengan tidak wajar.

Konon, semenjak peristiwa itu puisi buatan Tomino jadi menyeramkan. Cerita dari mulut ke mulut berkembang dan memperingatkan, jangan pernah membaca dengan suara lantang karena bakal mengundang bencana.

Kemungkinan cerita yang berkembang di atas hanya sebatas kisah urban. Puisi berjudul "Neraka Tomino" sendiri sebenarnya dimuat dalam buku kompilasi puisi Yomota Inuhiko "The Heart is Like a Rolling Stone" (心は転がる石のように). Di dalamnya memuat berbagai koleksi puisi, termasuk puisi "Tomino no Jigoku" karya Saizo Yaso dari tahun 1919. Nah, entah bagaimana sehingga puisi tersebut berkembang menjadi legenda urban nan menyeramkan.

Nah, buat kalian yang penasaran sama puisinya, ini gw ada puisi berserta artinya.
Sekedar saran, lebih baik baca dalam hati aja ya.

Tomino no Jigoku


ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku, kawaii tomino wa tama wo haku hitori jihoku ni ochiyuku tomino, jigoku kurayami hana mo naki.

muchi de tataku wa tomino no aneka, muchi no shubusa ga ki ni kakaru.

tatake yatataki yare tataka zutotemo, mugen jigoku wa hitotsu michi. kurai jigoku e anai wo tanomu, kane no hitsu ni, uguisu ni. kawa no fukuro ni yaikura hodoireyo, mugen jigoku no tabishitaku.

haru ga kitesoru hayashi ni tani ni, kurai jigoku tanina namagari. kagoni yauguisu, kuruma ni yahitsuji, kawaii tomino no me niya namida. nakeyo, uguisu, hayashi no ame ni imouto koishi to koe ga giri.

nakeba kodama ga jigoku ni hibiki, kitsunebotan no hana ga saku. jigoku nanayama nanatani meguru, kawaii tomino no hitoritabi.

jigoku gozarabamo de kitetamore, hari no oyama no tomebari wo. akai tomehari date niwa sasanu, kawaii tomino no mejirushini.

======================================================================


Neraka Tomino


Kakak yang memuntahkan darah, adik yang meludahkan api Tomino yang lucu meludahkan permata yang berharga

Tomino meninggal sendirian dan terjatuh ke dalam neraka Neraka kegelapan, tanpa dihiasi bunga

Apakah itu kakak Tomino memegang cambuk? Jumlah bekas luka berwarna merah sangatlah mengkhawatirkan Dicambuk ,BRdan dipukul sangatlah mendebarkan,

Jalan menuju neraka yang kekal hanyalah salah satu cara Mohon bimbingan ke dalam neraka kegelapan,

Dari domba emas, dan dari burung bulbul Berapa banyak yang tersisa dari dalam bungkusan kulit, Disiapkan untuk perjalanan tak berujung menuju neraka

Musim semi akan segera datang ke dalam hutan serta lembah, Tujuh tingkat di dalam gelapnya lembah neraka

Dalam kandang burung bulbul, dalam gerobak domba, Di Mata Tomino Yang Lucu Meneteskan airmata tangisan burung bulbul, dibalik hujan dan badai Menyuarakan cintamu untuk adik tersayangmu

Gema tangisanmu melolong melalui neraka, serta darah memekarkan bunga merah

Melalui tujuh gunung dan lembah neraka, Tomino yang lucu berjalan sendirian Untuk menjemputmu ke neraka,

Duri-duri berkilauan dari atas gunung menancapkan duri ke dalam daging yang segar, Sebagai tanda untuk Tomino yang lucu.

Gimana? apa kalian berani membacanya dengan lantang?

Kania A - IX C
Source : www.apakabardunia.com

Selasa, 08 September 2015

Misteri Kipas Merah

Dahulu kala, di sebuah rumah dusun, tinggallah Linda dan ibunya. Ayahnya telah meninggal dunia sejak Linda lahir, setiap hari mereka hidup sederhana, pekerjaan ibunya hanya mencukupi kebutuhan hidupnya. Ibunya ingin putrinya yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 3, setelah pulang sekolah Linda langsung membantu ibunya berjualan kue.

Pada saat itu, tiba-tiba Linda menemukan benda yang tergeletak di tanah, itu adalah kipas berwarna merah. Ia langsung mengambilnya, dan pada malam hari udara terasa sangat panas, ia memakai kipas merah itu lalu ia segera tidur. Pada saat ia tidur, seorang wanita cantik menghampirinya, Dia melihatnya dan mengipasinya.

Pada saat pagi hari, wanita itu pun pergi. Linda pun terbangun, ia merasa ada aneh saat ia tidur, lalu pada malam harinya lagi, wanita itu muncul lagi dan melakukannya seperti ia lakukan kemarin. Kali ini Linda pun ingin mencari tahu siapa yang melakukan itu. Pada malam hari ia pun tidur, wanita itu kembali datang. Linda akhirnya terbangun, ternyata seorang gadis cantik.

Ibunya mendengar ada suara aneh, pada saat ia melihat dari balik pintu, ternyata Linda berbicara dengan wanita cantik. Ibunya mengira wanita itu adalah siluman. Keesokan harinya, pada saat Linda turun dari tangga, ibunya bertanya kepada Linda. Linda bilang bahwa sebenarnya itu temannya, ia pun sudah janjian dengan dia. Ibunya masih tidak percaya kepadanya.

Dengan memakai kipas merah tersebut, ia bisa menemui wanita tersebut. Ia bisa ngobrol dengan dia setiap tengah malam, ia selalu tidur dengan cepat. Ibunya pun merasa ketakutan terhadap anaknya tersebut, akhirnya ia berencana memanggil semua warga untuk mengusir roh jahat itu.

Pada tengah malam, ibunya pergi ke rumah RT untuk memanggil semua warga untuk mengusir roh jahat itu, Linda sedang asyik mengobrol dengan wanita cantik itu. Tiba-tiba wanita cantik itu langsung mencekik Linda, Linda tidak tahu kenapa ia mencekiknya. Ternyata wanita cantik itu ingin Linda mati dan arwahnya ikut dengannya.

Beruntung pada saat ia dicekik, warga setempat datang dan menyelamatkankan Linda, mereka segera masuk ke kamar Linda dan mengalahkan wanita itu, tapi usaha tersebut gagal. Akhirnya pak RT menemukan kipas merah tersebut, kipas merah itu yang menyebabkan wanita itu muncul, lalu pak RT pun membakar kipas itu dan wanita itu hilang selamanya.

Pak RT menjelaskan kepada Linda bahwa sebenarnya kipas itu milik istrinya, tapi istrinya membuang kipas yang masih bagus itu ke tanah. Wanita yang melihatnya langsung marah dan arwahnya masuk ke dalam kipas itu, dan sejak itu jika siapa pun yang mengambilnya ia akan membunuhnya.

Akhirnya Linda pun meminta maaf kepada ibunya karena kesalahannya. Ibunya memaafkan dia. Akhirnya Linda dan ibunya hidup kembali dengan senang hati, dan Linda berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi

Evita Bunardi - IX C
Narsumber : tidak diketahui

Senin, 07 September 2015

I Am a Good Parent

Nah, ketemu lagi nih di Creepy Stories.. Ini cerita kedua yang gw post. Tanpa basa-basi lagi, cekidot guys..

"I Am a Good Parent"

Aku punya dua anak.

Mereka manis sekali. Yang pertama anak lelaki berumur 4 tahun dengan jiwa petualang, namun sangat sopan. Yang kedua bayi perempuan berumur 6 bulan yang senang mengoceh. Mereka berdua adalah obyek kasih sayang melimpah dariku dan suamiku. Kami ingin mengajari anak-anak kami agar mereka tumbuh menjadi apapun yang mereka inginkan. Kami ingin mendidik mereka agar cerdas dan selalu penuh rasa ingin tahu.

Ada orangtua yang menolak menjelaskan apa-apa kalau anak-anak mereka bertanya ini itu. Mereka memerintah-merintah anak-anak, mengharapkan mereka untuk menurut setiap kata tanpa banyak tanya. "Karena papa/mama bilang begitu!" Begitulah alasan yang biasa diberikan. Orangtua yang lain hanya menolak untuk menjelaskan lebih rinci tentang hal-hal yang ditanyakan anak-anak. "Dari dulu memang begitu, stop tanya-tanya!"

Aku yakin orangtua seperti itu hanya tidak mau berpikir. Mereka membuat anak-anak tumbuh menjadi generasi cuek dan tidak pedulian akan keadaan sekeliling mereka, tapi tidak dengan kami. Anak-anak seharusnya memahami dunia di sekitar mereka. Kami ingin mereka bertanya, meneliti, berpikir keras, dan mengambil kesimpulan. Kebanyakan orang dewasa meremehkan kemampuan pemahaman anak-anak, tapi kami lebih baik dari itu.

Kami punya dua anak, dan kami akan membuat mereka hebat.

Anak sulung kami mulai rajin bertanya-tanya, misalnya: "papa, mama, kenapa lasagna buatan mama dibuang?" Kami tidak bilang "karena lasagnanya sudah basi." Apa yang akan ia pelajari? Kami tahu ia menyayangi dan memercayai kami dan mungkin akan menerima saja jawaban itu, tapi kami tidak ingin ia begitu seumur hidup. Dia dan adik perempuannya harus tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas, terutama setelah orangtua mereka nanti menua dan mulai kehilangan kemampuan fokus, apalagi orang lanjut usia sangat keras kepala. Jadi, kami membuat "kotak observasi"; kami taruh sepotong lasagna di dalam kotak Tupperware tembus pandang, dan tidak kami taruh di kulkas. Setelah beberapa hari, lasgnanya basi, dan kami membiarkannya melihatnya. "Idih! Lasagnanya basi! Jadi itu sebabnya dibuang!" Tepat sekali. Dia benar-benar pintar. Kami sukses sebagai orangtua.

Kami punya dua anak, dan mereka akan tumbuh jadi anak-anak yang sempurna.

Para orangtua pasti tahu kalau anak-anak selalu penuh rasa penasaran. 24 jam seolah tidak cukup untuk membuat eksperimen kecil-kecilan atau menjawab semua pertanyaan anak laki-laki kami. Kami mengajarinya cara berpikir kritis; kalau ia bertanya "kenapa," kami akan tanya balik padanya "menurutmu kenapa bisa begitu?" Dia akan berpikir keras untuk menemukan beberapa kesimpulan, walaupun biasanya ia memang tetap harus dibimbing. Pada suatu malam, saat kami hendak menidurkan bayi perempuan kami, dia memanggil kami dari tempat tidurnya.

"Papa! Mama! Ada suara di lemariku! Apa itu?"

Suamiku terkekeh saat kami mendatangi kamarnya. "Nah, nak, menurutmu itu apa?"

"Itu monster! Atau hantu. Dia mau membawaku!"

"Dimana kau pernah melihat mereka, nak? Apakah kau menonton mereka di berita TV?"

"Yah...tidak. Anak-anak lain yang cerita. Tapi aku tak pernah lihat." Dia mulai berpikir. "Mungkin itu binatang?"

Itu memang lebih memungkinkan daripada hantu, jadi cara berpikirnya sudah benar. Aku menyeletuk, "sayang, kita ada di tempat yang aman sekarang, 'kan?" Detektif kecilku mengangguk. "Jadi, ayo kita lihat ada apa di lemarimu."

Dia turun dari tempat tidur dengan gugup dan berjingkat-jingkat menuju lemarinya. Lemari itu pintunya berupa pintu geser, dan di dalamnya, kami menyimpan pakaiannya serta sebuah meja kecil dengan peralatan prakarya di atasnya. Ketika dibuka, kami melihat cangkir plastik berisi krayon yang rupanya ditaruh terlalu ke pinggir, lalu terjatuh. Batang-batang krayon warna-warni berhamburan di dasar lemari. Kami bangga. Anak lelaki kami mengambil kesimpulan sendiri dengan berani. Dia akan menjadi contoh yang baik untuk adiknya.

Kami punya dua anak, dan mereka brilian.

Pada kesempatan lain, anak kami bertanya, "kenapa kadang-kadang ada bintil-bintil kecil di lenganku?" Kami membiarkannya membuat deduksi berdasarkan situasinya. "Aku biasanya sih cuma duduk

saja, tapi aku kedinginan. Kenapa bintil-bintil muncul?" Kami lalu mengajaknya meneliti hal itu. Dia belum bisa melakukan pencarian rumit di Google, jadi kami membantunya mengetikkan pertanyaannya. Kami lalu menemukan bahwa ketika temperatur menurun, tubuh merinding untuk menciptakan insulasi yang membuat kita merasa hangat. Setelah mendapat jawabannya, dia tidur dengan senang.

Sungguh anak pintar.

Kami punya dua anak, dan mereka sedang dalam proses menjadi orang-orang hebat.

Kali lain, kadang-kadang bertanya saja bukan pilihan terbaik. Pada suatu hari yang cerah, suamiku dan aku membawa anak-anak kami ke taman. Aku sedang menggendong si bungsu ketika anak lelakiku mendadak berlari menghampiri kami dari tempatnya bermain.

"Ada seorang wanita melihatiku terus, tapi aku tidak tahu kenapa."

Kami memeriksa keadaan taman di sekitar kami, tapi kami tak melihat ada wanita yang menatapinya. Mungkin itu cuma orangtua lain yang agak cemas anak mereka sendiri kenapa-kenapa di dekat anak-anak lain, dan itu sebabnya mengapa ia memerhatikan anak kami. Cuacanya cerah, tapi anak kami jelas-jelas ketakutan. Kami bertanya apakah ia mau menyelidikinya, tapi ia tidak mau. Kami dengan bangga memberitahunya bahwa kami senang ia bisa mengenali situasi bahaya dan langsung datang pada kami. Kami lalu meninggalkan taman sambil menjelaskan padanga bahwa terkadang kita tidak bisa menyelidiki sesuatu secara mendalam ketika situasinya tidak aman. Dia tidak senang dengan jawaban itu, jadi kami memberi nasihat mengenai para ilmuwan. Mereka juga kadang tak bisa menemukan informasi yang mereka perlukan, sehingga penelitian tidak bisa dilanjutkan. Kadang, kita memang harus rela tidak mendapat jawaban pasti.

Yah, kami punya dua anak, dan mereka akan jadi orang dewasa yang revolusioner.

Pada suatu malam, anak perempuan kami terserang demam. Dia berkeringat terus saat aku menggendongnya. Anak lelaki kami bertanya mengapa adiknya tidak enak badan. Aku bilang padanya kami tidak yakin, tapi dokter bilang ini akan berlalu. Anak lelaki kami benar-benar sedih. Jadi, aku menaruh anak perempuan kami di ranjang bayinya, dengan kipas angin menyala, dan aku membiarkan anak lelaki kami duduk di dekatnya sambil mengelus-elus rambutnya. "Aku mau tahu kenapa kepalamu sakit, adik kecil, supaya bisa kuobati."

Aku mencoba santai dengan menonton TV, sendirian, karena suamiku sedang ke luar kota. Aku tertidur. Ketika terbangun, aku langsung ke kamar bayi untuk melihat sedang apa anak lelakiku. Ketika hendak masuk, aku melihat kotak perkakas suamiku terbuka dan isinya berceceran di lantai.

Di dalam kamar bayi, anak lelakiku sedang meneliti kenapa adik bayinya demam dan 'kepalanya sakit.' Dia ada di ranjang bayi bersama adiknya.

Dia memegang obeng.

Keadaannya berantakan sekali.

Gara-gara dia, kami tinggal punya satu anak.

"Mama, aku cuma mau lihat kenapa kepala adik kecil sakit. Tapi tidak ada apa-apa di dalamnya."

Tidak apa-apa. Aku orangtua yang baik. Jadi, aku mengatasi sendiri situasinya.
Dan sekarang, aku tidak punya anak.


Nah, gimana guys?? Ngerti nggak ceritanya?? Jadi "Si Mama" di cerita ini menghabisi anaknya sendiri karena anak itu tanpa sengaja ngebunuh adiknya (kan masih kecil guys blom tau apa-apa :v)..
Sekian dulu ceritanya hari ini, and I'll see you guys in the upcoming stories!!


Calvin K - IXC

Source : Reddit Scary Stories
             Creepypasta Indonesia

Jumat, 04 September 2015

Yo, What's Up.. Welcome Back.
Satpam Memang Ga Asing.. Ada Satpam yang Ngeselin! Ada juga yang Bersahabat..
Kalau Satpam yang Ini? Simak Ceritanya
                                        Hanya Karna Pen?
Malam ini, Tugasku sangat menumpuk, aku harus mengerjakannya di kampusku, agar saat pulang rumah aku bisa tidur dengan pulas tanpa ada hambatan, aku ditemani temanku.. Diana, Satpam sekolah kami Pak Retno, Bertanya 
"Sudah malam, belum pulang non?" 
                                                        Aku menjawab "Belum pak, tugasnya banyak nih.."
"Ya sudah, bapak berjaga jaga saja disini sampai kalian selesai"
                                                         "Makasih pak.. maaf merepotkan"
Kampusku memang terkenal ankernya, tapi karna kehadiran pak Retno dan sahabatku, aku tidak perlu merasa takut.. Tugasku masih banyak, tapi aku sangat mengantuk..
"Ngantuk non? Saya buatin Teh anget dulu.. Tunggu sebentar tidak apa kan?" Tanya pak Retno
                                                         "Gapapa kok pak.. iya pak, makasih banyak ya"
Beberapa menit kemudian pak Retno kembali, dengan tangan kosong dan muka merah padam, Dia hanya tersenyum menatapku, tapi aku tau.. tatapannya itu kosong tanpa makna..
Tiba-tiba Aku terkejut karna pen temanku jatuh..
"Huh, mengejutkan saja"
Setelah Diana mengambil pennya, ia mulai membereskan barangnya, dengan muka pucat pasi, seperti menahan sesuatu yang mencekam.. Hahh ada ada saja
"Sudah selesai? Cepat banget"
              "Aku pulang dulu.."
"Kenapa emangnya?"
              "Jatuhkan penmu dan kamu akan mengerti, selamat malam"
Ia Berlari kecil sebelum meninggalkanku sendiri dengan lampu redup dan pak Retno
Aku pun menjatuhkan penku, Tapi, kaki satpam itu tidak ada, ia seperti satpam yang melayang seperti dalam film aladin, Aku menahan teriakkanku, dan mencoba tenang, tapi jantungku yang berdetak kencang tidak dapat kutahan lagi.. Aku buru2 membereskan barang2ku dan mulai berjalan dengan tenang sambil berbicara ke pak Retno untuk pamit, tapi sebelum aku mengeluarkan kata kataku, ia berbicara duluan dengan suara kecil dan serak yang hampir tidak dapat ku dengar dengan jelas.
"Sudah selesai? baru jam 11.13 loh ini.."
Rasanya jantungku akan copot, dia tidak memiliki jam di kantung ataupun pergelangan tangannya, dan tidak ada jam di ruangan itu, bagaimana ia bisa tau?
               "Sudah selesai kok pak, saya pamit dulu ya pak, hehe.. makasih"
Belum sempat aku melangkah ia menahan pundakku dan berbisik
"Sudah selesai atau sudah tau?"

Hanzen - IX C
Sumber : Mungkin ini menyeramkan bagimu? 
Hi guys , today i wanna give a story, it's so scary ,#Eaaa.
relax cerita ini memakai bahasa indonesia tadi itu cuma opening- nya.
sekarang saya akan memulai cerita tentang who? .
let's go to read the text .
 who?

Akhir-akhir ini aku sering mengalami insomnia. Awalnya aku beranggapan bahwa penyakit insomniaku ini kambuh karena terlalu sibuknya aku di kantor hingga pulang larut malam. Namun, aku menyadari sesuatu ada yang aneh dengan kondisiku ini.

Pada suatu malam aku terlalu larut pulang ke rumah karena sibuknya pekerjaan di kantor hari itu. Seperti biasa sebelum tidur aku akan melakukan aktivitas rutinku pada malam hari yaitu menonton acara sepak bola yang memang hadir setiap dini hari sambil meminum susu panas. Tiba-tiba ada bisikan halus yang datangnya entah darimana ,,,

"Kembalikan !!! Kembalikan yang bukan milikmu !!!" terdengar suara bisikan

"Apa yang harus ku kembalikan ?" balasku

"Kau sendiri !!!" bisikan itu terdengar mengancam

"Apa maksudmu ?" balasku kembali

Setelah ku membalas kembali bisikan itu , semuanya menjadi hening. Aku begitu ketakutan akan hal itu, tetapi aku ingat sesuatu bahwa kakekku sedang sakit parah di rumah sakit. Sebelum sakit parah ia sempat memberiku sebuah cincin dengan ukiran aneh yang terlihat seperti mantra.

"Apa itu suara kakekku ? Apa yang dimaksudnya cincin itu ?" pikirku
Keesokan harinya aku pun datang membesuk kakekku di rumah sakit. Disana terlihat nenekku dan saudara-saudariku. Matanya terlihat sembab dan nampak shock. Kemudian aku bertanya ,,,

"Ada apa nek?" tanyaku

"Kakekmu dalam kondisi kritis !!!" jawabnya khawatir

"Oh tidak , aku harap kakek baik-baik saja !" jawabku

"Nenek harap juga begitu !" jawabnya

"Nek bolehkah aku melihat kondisi kakek ?" pintaku

"Boleh , tetapi mungkin hanya sebentar saja !" ujarnya

"Baiklah nek , aku kangen sekali dengan kakek !" ujarku

Aku pun bergegas memasuki ruangan kakekku dirawat dan aku sangat sedih melihat kondisinya yang kurus kering. Ku belai rambutnya dan ku cium keningnya , tiba-tiba ia terbangun dan melotot tajam ke arahku ,,,

"Kembalikan aku kek , aku sangat menderita seperti ini !" ucapnya lirih

"Tidak nak , aku lebih suka dengan tubuh ini , tampak muda !" jawabku tegas

"Tidak kek , aku tidak mau !!!" teriaknya

Aku pun tersenyum puas.

end

- WINSTON NG -  IX C
Narasumber : CREEPY PASTA IND


Selasa, 01 September 2015

Hey everyone, tonight i'll tell you a creepy story that will give you a nightmare. Don't worry, ceritanya pakai bahasa indonesia kok bukan inggris. Sekilas saja, ini bercerita tentang kekuatan pikiran yang mampu mencelakai orang lain, mendapatkan sesuatu, atau membuat sesuatu hal yang tidak mungkin, seperti makhluk hidup(?), tentu biasanya hanya akan ada di dalam pikiran kita. Tapi, bagaimana jika apa yang kita pikirkan itu keluar dari pikiran dan menjadi hidup tanpa kita sadari.... :O


Makhluk Ciptaan Pikiran


            Aku bukan pencita hal yang mistis, tidak seperti Roge adikku. Di hidupnya yang aneh, dia tahu berbagai macam buku, permainan, tempat yang pokoknya judulnya mistis. Kali ini ia memberitahuku cara membuat makhluk hidup ciptaan pikiran. Aneh-aneh saja adikku satu ini.
            “Iya, aku akan mencobanya. Caranya memang agak susah. Tapi aku pasti bisa. Aku akan membuat anjing. Nanti, aku kasih nama Orge,” katanya di suatu pagi. Aku yang tidak beminat mendengar khayalannya hanya bisa mengiyakan.
            “Terserah. Tapi jangan sangat mengganggu kehidupan orang lain.”
            “Tenang, aku buatnya di kehidupanku sendiri, pas tidur.”
            Aku hanya mengangguk, benar-benar, bagaimana ia bisa menjadi adikku? Hari berganti hari. Ada hal yang tidak biasa di kamar yang ku tempati bersama adikku. Bayangan hitam yang berada di luar jendala kamar. Kamarku berada di lantai 2 dan tidak mungkin juga itu bayangan pohon. Bayang itu mirip anjing, ya anjing herder tepatnya. Segera ku tanya adikku.
            “Proyekmu berhasil?”
            “Proyek apa?”
            “Yang kau bilang beberapa hari yang lalu.”
            “Oh itu, iya donk. Kok kakak bisa lihat? Kayaknya cuma ada 2 orang yang bisa lihat dia. Ah… Kakak pasti lihat prosesnya ya??”
            “Kamu ini, ya enggaklah. Kok katamu ada 2 orang?”
            “Iya kak. Di dunia ini, sangat mungkin 2 orang bahkan lebih bisa memikirkan hal yang sama dan pada saat yang sama.”
            “Jadi kalian berdua penciptanya. Berarti cuma ada 1 anjing. Kok dia bisa ada sama kamu?”
            “Pencipta yang kedua itu jahat. Untung aku berhasil menyelamatkannya. Ia berencana membunuh Orge. Kalau kakak tanya kok kandangnya ada di luar jendela karena kamar kita sempit.”
            Aku tetap bingung meskipun sudah dijelaskan panjang lebar. Akhirnya ku putuskan dia hanya mengarang indah dan segera melupakannya. Ternyata kejadian aneh tidak hanya sampai di situ. Pada suatu malam, aku memimpikan suatu hal yang berkaitan dengan Orge. Di mimpiku, aku sedang berada di kamarku. Cahaya sangat minim di sana, tapi aku bisa melihat adikku sedang memeluk Orge dengan sangat sedih. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.
            DOR
            Aku kaget bukan main. Segera aku teriak memanggil adikku. Dengan suara berbisik ia meminta ku tetap tenang, atau mungkin orge, anjing yang melas itu untuk tenang. Kembali terdengar suara tembakan.
DOR
Orge segera melepaskan diri dan berlari keluar jendela. Jangan tanya mengapa ia keluar. Segera setelah ia keluar, menyusul suara tembakan dan suara tawa seoraang pria dengan agak berat. Segera aku menutup mukaku dengan bantal.
Aku terkejut, saat aku membuka mata, bantal yang seharusnya ada di mukaku, sekarang ada di bawah kepalaku dan hari pun sudah pagi. Ku kira ini hanya mimpi anehku. Tapi saatku lihat adikku, ia tampak sedih dan lemas. Aku masih takut melihat jendela. Jadi aku segera mengambil handuk dan mandi.
“Andi, Roge, ayo cepat!” Seru ayah kami dari depan rumah. Saat hendak menghampiri ayah, aku melihat pembantu kami Pak Bemtun sedang mengelap jendela kami.
“Tumben ngelap jendela kamar kami, Pak Bem.”
“Iya ada bercak darah agak banyak.” Katanya sambil terus mengelap.
“Darah?” Aku amat heran.
“Iya, darah hewan kayaknya.”
“Ooo…” Seru sambil berusaha menyembunyikan rasa terkejutku dan segera menaiki motor ayahku. Selama perjalanan aku merasa antara bingung dan kosong. Aku tidak mengerti.

Natasya Citra - IXC
Narasumber: Suatu tulisan dalam buku tua

Rabu, 12 Agustus 2015

Hello guys, hari ini gue akan menceritakan kisah horror yang membuat bulu kuduk kalian berdiri dan juga membuat kalian merinding. Oke sekarang kita mulai ceritanya

Misteri kamar hotel 339

Pada saat liburan musim panas, Arya dan ayahnya pergi berlibur ke bali. Mereka berencana menginap di hotel yang dibangun sejak tahun 1910, hingga saat ini hotel ini masih berdiri kokoh, tapi hotel itu juga terkenal karena keangkerannya dan menyimpan banyak misteri. Ayahnya seorang penulis, sedangkan Arya seorang siswa SMA kelas 12. Ibunya telah meninggal sejak ia dilahirkan.

Mereka tiba di sebuah hotel yang tua, pada saat mereka memesan kamar hotel, penjaga itu berkata
"Maaf pak, sebaiknya bapak jangan memilih kamar dengan nomor 339!"Kata penjaga itu.
"Emang kenapa?"kata ayah Arya.
"Soalnya kamar itu dikenal keangkerannya pak."Kata penjaga itu.
Tapi ayah Arya tidak percaya dengan perkataan penjaga itu tadi, ia mengira itu cuma cerita saja dan berisikeras memilih kamar hotel itu.

Akhirnya penjaga itu menuruti kemauan ayah Arya. Sebaliknya Arya malah percaya kalau itu memang nyata, mereka lalu tiba tiba disebuah kamar hotel nomor 339. tapi keanehan pun terjadi, pintu itu terbuka dengan sendirinya, tapi ayah Arya berpikir itu cuma terkena angin. Tapi Arya merasa ketakutan.
"Ayah, aku melihat pintu itu terbuka dengan sendirinya." Jawab Arya dengan takut.
"Sudahalah Arya, itu cuma angin yang membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya."Kata ayah Arya.

Pada saat mereka masuk, Arya melihat sebuah foto wanita dengan latar belakang yang mengerikan dan ia mengenakan kebaya warna putih. Tampaknya foto itu masih dipajang karena foto itu dibuat 100 tahun yang lalu, tapi ayah Arya mengatakan bahwa sebenarnya wanita itu sangat jelek dan suaranya sangat jelek.  Pada saat malam hari, Arya mendengar suara nyanyian sinden di kamar hotel tersebut dan foto wanita itu yang tadinya muka itu terlihat cantik kini terlihat lebih mengerikan.

Arya semakin ketakutan dengan kamar hotel tersebut, tapi ayah Arya tetap santai dan mengira suara itu lewat radio. Pada saat arya pergi ke toilet, tiba tiba ayah Arya merasa sesuatu yang aneh terjadi, ia melihat foto wanita yang semula ada menjadi tidak ada. tiba-tiba Arya mendengar suara ayahnya yang berteriak minta tolong, ternyata kaki ayahnya ditarik oleh seorang arwah yang tak lain adalah wanita di foto itu.

Ternyata arwah itu adalah seorang penyanyi sinden yang terkenal. Ia mulai dikenal sejak ia mulai berkarir, tapi karena ia dikhianati oleh penggemarnya karena perbuatan yang jahat dan suka mengancam penggemarnya, maka ia bunuh diri kamar hotel 399. Sejak itu, arwahnya tidak tenang karena setiap ada orang yang menjelek-jelekkan dia dan mengkhianatinya, maka ia mulai membunuh orang yang mengkhianatinya.

Arya mencari akal untuk menghilangkan wanita itu selama-lamanya, ia menemukan sebuah salib dan benda yang sangat tajam itu. Sementara itu ayahnya sedang diikat di kursi oleh arwah itu, arwah itu mengatakan bahwa ia akan mati karena mengkhianatinya dan menjelek-jelekkannya. Arya mulai masuk ke kamar mandi dan ia mulai menusuknya secara diam-diam

Tapi, arwah itu tau bahwa Arya akan membunuhnya, maka arwah itu mulai menahan pisau tersebut dan ia mulai melukai Arya, Arya melihat benda tajam lainnya yang tergeletak. Arya pun mengambil benda tajam tersebut dan ia mulai menempelkan salib ke dahi arwah tersebut dan menusuknya sampai menghilang.

Arya pun menolong ayahnya melepaskan ikatan itu, ayahnya meminta maaf kepada Arya karena ia tidak percaya padanya bahwa kamar itu sebenarnya angker, Arya memaafkan ayahnya dan pada keesokkan harinya, mereka memutuskan untuk tidak mengunjungi hotel itu lagi, mereka memilih untuk menginap di hotel yang nyaman dan bagus.

Guys, kita tau bahwa kita menganggap cerita orang lain tersebut cuma bohongan saja, tapi bisa juga menjadi kenyataan. So, mulai sekarang kalian harus memikirkan pendapat orang lain. Demikianlah ceritaku yang mengerikan ini semoga kalian tidak memikirkan hal ini lagi. Goodbye! Muahahahahaha.............

Evita Bunardi - IX C
Narasumber : Tidak diketahui         

Rabu, 05 Agustus 2015

Antara nyata dan khayalan

Hey everyone, come in. Selamat datang untuk kalian semua yang sudah mampir dan ini adalah cerita ke empat. Kalau nggak menakutkan, berharap saja kalian tidak mengalami hal yang sama. (Udah nggak usah merinding gitu. Ceritanya belum dimulai juga... :v)



Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu aku sedang sakit demam tinggi yang cukup parah. Kalian tahu saat demam tinggi orang bisa saja berhalusinasi. Ya, aku juga mengalami tahap itu. Rasa sangat mengerikan, antara nyata dan tidak nyata. Percaya deh. Saat itu aku di rawat di ruangan yang membosankan, tua, dan kusam bukannya di rumah sakit elit. Aku pernah mendengar cerita yang tidak-tidak dari rumah sakit itu, banyak hantu yang mengambil nyawa orang sakit. Katanya. Hal itu nggak lagi jadi pertimbangan, yang penting sembuh. Untung,  aku tidak sendiri ada pasien lain. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajak nya berbicara. Meskipun sakitku cukup parah, tapi aku tak tahan satu hari tak bicara.

“Woi!” Seruku walaupun aku tahu ini sudah malam, waktunya orang tidur. Karena dia diam, aku juga diam. Tiba-tiba ia bangun dengan gelagapan. Ia melihat ku dan berbicara setengah berbisik.
 “Oh tidak saya tidak boleh ada di sini. Tolong saya!” Aku mengeluh dalam hati, kok minta bantuan ke orang yang sakitnya parah. Aneh. Lalu ia mulai bangun dan mencoba keluar.
“Tolong saya! Saya akan mati di sini. Mereka akan membunuh saya. Sebentar lagi yang lainnya. Saya harus tetap hidup! Jangan biarkan saya mati! Ada kebenaran yang harus saya sebarkan.” Mendengar itu tentu aku merasa merinding sekaligus bingung. 

Untunglah datang seorang dokter bersama perawat yang masih muda sambil membawa suntikan berukuran sedang. Teman sekamarku mulai kalang kabut dan berteriak. 
"Pergi!!! Jangan dekati saya!!!Tidak!!!"
Aku kira ia over-dramatic karena takut suntikan. Dengan susah payah dokter dan perawat menyuntinya. Ia mulai tenang lalu diam. Samar-samar  aku mendengar suara sang dokter,
“ia sudah mati... Kita bisa tenang sekarang.”
“Iya benar. Kasihan sekali, ya?”
“Kasihan? Ia memang pantas menerimanya . Ia tahu terlalu banyak dan sangat membahayakan kita. Bagaimana dengan pasien yang sebelah? Apakah ia memperhatikan kita?”
“Kayaknya enggak, dok.” Jawab si perawat sambil memeriksaku dengan cepat. Sang dokter menatapku sejenak dengan tatapan mengerikan lalu mengangguk dan segera pergi.

Jlebb.. Aku tidak lagi sadar.
Tiba-tiba aku terbangun dan melihat teman sekamarku yang sangat tenang. Ia benar telah meninggal. Aku tak yakin apakah tadi aku tertidur atau terjaga. Sepertinya itu hanya halusinasi, tapi kok rasanya sangat nyata, ya?

Paginya, aku bercerita tentang apa yang aku lihat tadi malam kepada dokter yang memeriksaku. Dokter tua itu menyatakan itu hanya halusinasiku saja. Aku meyakinkan dokter bahwa rasanya seperti beneran. Tapi dokter tetap pada pendapatnya.
“Apakah saya akan membaik?” Tanyaku asal agak putus asa. Tiba-tiba aku merasa bingung dan aneh. Ku paksakan diriku untuk berpikir, mencoba mengingat sesuatu.
“Ya, kalau penyakitnya memang bertambah parah. Kamu bisa seperti pasien sebelah.” Balasnya dengan cara bicara yang tidak biasa.
Nah aku berhasil meningatnya. Gawat. Dokter ini adalah dokter yang sama dengan yang tadi malam. Aku juga mengerti tentang kebenaran yang teman sekamarku katakan dan cerita orang-orang. Bukan hantu yang mengambil nyawa mereka, dokter-nya malah. Aku benar-benar menyesal sudah bercerita. Aku harap ia benar, aku cuma berhalusinasi. Tapi saat kulihat kembali tatapan itu, aku tahu aku aku tidak punya pilihan.


Natasya Citra - IXC
Narasumber : suatu kotak dalam pikiran

Senin, 03 Agustus 2015

Hachisakusama (Eight Feet Tall)

Hello again everyone, and welcome back to our Creepy Stories!! Hari ini gw akan share Story ke 3, yaitu sebuah cerita (urban legend lebih tepatnya) dari Jepang tentang 'Hachisakusama'..

OK, daripada kalian penasaran, langsung aja cekidot guys, enjoy!!


"Hachisakusama (Eight Feet Tall)"

Kakek nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orangtuaku akan membawaku kesana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah pedesaan kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang luas. Aku suka bermain di sana selama musim panas. Saat kami tiba, kakek nenekku selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Aku adalah satu-satunya cucu mereka, jadi mereka memanjakanku.

Terakhir kali aku melihat mereka adalah pada saat musim panas ketika aku berusia 8 tahun.
Seperti biasa, orangtuaku memesan tiket pesawat ke Jepang dan kami berkendara dari bandara menuju ke rumah kakek nenekku. Mereka sangat senang melihatku dan punya banyak hadiah kecil untuk diberikan padaku. Orangtuaku ingin menghabiskan beberapa waktu berdua saja, jadi setelah beberapa hari, mereka melakukan perjalanan ke daerah lain Jepang, dan meninggalkanku dalam pengawasan nenek dan kakek.

Suatu hari, aku sedang bermain di luar di halaman belakang. Kakek dan nenekku berada di dalam rumah. Saat itu cuaca panas di musim panas dan aku berbaring di rerumputan untuk beristirahat. Aku memandangi awan-awan dan menikmati merasakan sinar matahari yang lembut dan angin sepoi-sepoi. Pada saat aku baru saja akan bangun, aku mendengar sebuah suara aneh.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Aku tidak tahu suara apa itu, dan sulit untuk mengetahui darimana suara itu berasal. Suaranya hampir seperti seseorang sedang berbicara sendiri... Seperti mereka hanya mengucapkan, "Po... Po... Po", terus menerus dengan suara maskulin yang dalam.
Aku melihat ke sekeliling, mencari sumber suara tersebut ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu di atas pagar tinggi yang mengelilingi halaman belakang. Itu adalah sebuah topi jerami. Benda itu tidak tergeletak di atas pagar, tetapi berada di baliknya. Di situlah suara itu berasal.

"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Kemudian, topi itu mulai bergerak, seperti ada seseorang yang memakainya. Topi itu berhenti pada sebuah celah kecil di pagar dan aku bisa melihat sebuah wajah sedang mengintip. Ia adalah seorang wanita. Tetapi pagar itu sangatlah tinggi... Hampir 8 kaki tingginya.

Aku terkejut mengingat betapa tingginya wanita itu. Aku bertanya-tanya apakah ia mengenakan jangkungan atau semacam sepatu berhak sangat tinggi. Lalu, sepersekian detik kemudian, wanita itu berjalan pergi dan suara aneh itu pun ikut menghilang bersamanya, menghilang dari pandangan.
Merasa bingung, aku bangun dan berjalan masuk ke rumah. Kakek dan nenekku sedang minum teh di dapur. Aku duduk di meja dan, setelah beberapa saat, aku menceritakan pada mereka apa yang telah aku lihat. Mereka tidak terlalu memperhatikanku sampai aku menyebutkan suara aneh itu.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Tak lama setelah aku mengucapkan itu, mereka berdua tiba-tiba membeku. Mata nenek mulai melebar dan ia menutup mulutnya dengan tangannya. Wajah kakek nampak sangat serius dan ia menarik tanganku.
"Ini sangat penting," katanya dengan nada kuat. "Kau harus benar-benar memberitahu kami... Seberapa tinggi dia?"
"Setinggi pagar kebun." Jawabku, mulai merasa ketakutan.
Kakekku memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaan ini... "Dimana dia berdiri? Kapan ini terjadi? Apa yang kau lakukan? Apakah ia melihatmu?"
Aku mencoba menjawab semua pertanyaannya sebisaku. Ia tiba-tiba bergegas pergi ke lorong dan menelepon. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku melihat ke arah Nenekku dan dia terlihat gemetar.
Kakekku kembali ke dalam ruangan dan berbicara pada nenekku.
"Aku harus keluar sebentar," katanya. "Kau tinggal di sini bersama anak itu. Jangan lepaskan pandanganmu darinya sedetikpun."
"Apa yang terjadi, Kakek?" Tangisku.

Dia melihatku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau telah di sukai oleh Hachisakusama."
Bersama dengan itu, ia bergegas masuk ke dalam truknya dan pergi.
Aku berbalik ke nenekku dan dengan hati-hati bertanya, "siapa Hachisakusama?"
"Jangan khawatir," katanya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu. Kau tidak perlu khawatir."
Saat kami duduk di dapur dengan gugup sambil menunggu kakekku kembali, dia menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dia menceritakan padaku bahwa ada maklhuk berbahaya yang menghantui daerah tersebut. Mereka memanggilnya "Hachisakusama" karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, "Hachisakusama" artinya "Si Tinggi Delapan Kaki".

Ia berwujud seperti seorang wanita yang sangat tinggi dan ia mengeluarkan suara seperti, "Po... Po... Po..." dengan suara pria yang dalam. Wujudnya terkadang berbeda, tergantung siapa yang melihatnya. Beberapa orang mengatakan ia terlihat seperti seorang wanita tua kurus kering berpakaian kimono, dan yang lainnya mengatakan ia adalah seorang gadis dengan kain kafan putih. Satu hal yang tidak berubah adalah tingginya dan suara yang ia buat.
Pada zaman dahulu, ia ditangkap oleh para biksu dan mereka berhasil memenjarakannya di sebuah reruntuhan bangunan di pinggiran pedesaan. Mereka menjebaknya dengan menggunakan 4 patung relijius kecil yang disebut "Jizo", yang mereka tempatkan di sebelah Utara, Selatan, Timur dan Barat reruntuhan dan seharusnya makhluk itu tidak bisa pergi dari sana. Entah bagaimana, makhluk itu bisa lolos.

Terakhir kali makhluk itu muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenekku berkata bahwa siapapun yang melihatnya ditakdirkan akan mati dalam beberapa hari.
Semuanya terdengar sangat gila, aku tak yakin apa yang harus kupercayai.
Ketika kakek kembali, ada seorang wanita tua bersamanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai "K-san" dan ia menyerahkan padaku selembar perkamen kusut dan berkata, "Ini, ambil dan peganglah." Lalu, dia dan kakekku pergi ke atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur bersama nenekku lagi.
Aku ingin ke kamar mandi. Nenek mengikutiku ke kamar mandi dan tidak membolehkanku menutup pintunya. Aku mulai merasa benar-benar ketakutan dengan semua ini.
Setelah beberapa saat, kakek dan K-san mengajakku ke atas dan membawaku ke kamarku. Jendela-jendelanya telah ditutupi oleh kertas koran dan banyak rune kuno dituliskan pada kertas-kertas itu. Ada mangkuk kecil berisi garam di empat setiap sudut ruangan dan sebuah patung Buddha kecil di tempatkan di tengah-tengah ruangan di atas sebuah kotak kayu. Di sana juga terdapat sebuah ember berwarna biru cerah.

"Untuk apa ember itu?"tanyaku.
"Itu untuk buang air kecil dan buang air besar." Jawab kakek.
K-san mendudukkanku di tempat tidur dan berkata, "Sebentar lagi matahari akan terbenam, jadi dengarkan baik-baik. Kau harus tinggal di kamar ini sampai esok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apapun sampai pukul 7 besok pagi. Nenekmu dan kakekmu tidak akan berbicara padamu atau memanggilmu sampai saat itu. Ingatlah, jangan pergi dari kamar ini apapun alasannya sampai nanti. Aku akan memberitahu orangtuamu apa yang sedang terjadi."
Dia berbicara dengan nada amat sungguh-sungguh dan yang bisa kulakukan hanyalah diam sambil menganggukkan kepalaku.
"Kau harus mengikuti perintah K-san baik-baik," kakek memberitahuku. " Dan jangan pernah melepaskan perkamen yang ia berikan padamu. Dan jika terjadi sesuatu, berdoalah pada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi."
Mereka berjalan menuju lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal pada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menontonnya, namun aku sangat gugup, aku merasakan sakit pada perutku. Nenek meninggalkan beberapa makanan ringan dan bola-bola nasi untukku, namun aku tidak bisa memakannya. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku sangat depresi dan ketakutan. Aku berbaring di atas tempat tidur dan menunggu. Sebelum aku mengetahuinya, aku tertidur.

Saat aku terbangun, saat itu baru saja pukul 1 AM. Tiba-tiba saja, aku menyadari ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela.
"Tap, tap, tap, tap, tap... "
Aku merasakan darah mengering dari wajahku dan jantungku berhenti berdetak. Dengan putus asa aku mencoba untuk menenangkan diriku, aku memberitahu diriku sendiri bahwa itu hanyalah suara angin atau mungkin suara ranting pohon. Aku membesarkan volume TV untuk meredam suara ketukan tersebut. Pada akhirnya, suara tersebut berhenti sama sekali.
Pada saat itulah ketika kakek memanggilku.
"Apa kau baik-baik saja di sana?" Tanyanya. "Kalau kau takut kau tidak perlu tinggal di sana sendirian. Aku bisa masuk dan menemanimu."

Aku tersenyum dan bergegas untuk membuka pintu, namun kemudian, aku menghentikan langkahku. Sekujur tubuhku terasa merinding. Suara itu terdengar seperti suara kakek, namun entah bagaimana, rasanya berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya, aku hanya tahu itu...
"Apa yang kau lakukan?" Tanya kakek. "Kau boleh membuka pintunya."
Aku menoleh ke arah kiriku dan sebuah perasaan dingin merayapi tulangku. Garam di mangkuk perlahan berubah menjadi hitam.
Aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di hadapan patung Buddha dan mencengkram erat-erat lembaran perkamen di tanganku. Dengan putus asa aku mulai berdoa untuk pertolongan.
"Tolong selamatkan aku dari Hachisakusama..." Raungku.
Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu berkata,
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Ketukan jendela mulai terdengar kembali. Aku dikuasai oleh rasa takut dan aku berjongkok di depan patung, setengah menangis dan setengah berdoa selama sisa malam itu. Rasanya seperti tidak akan berakhir, namun akhirnya ternyata hari sudah pagi. Semua garam di 4 mangkuk itu benar-benar menjadi hitam pekat.
Aku memeriksa jam tanganku. Sudah pukul 7.30 AM. Dengan hati-hati aku membuka pintu. Nenek dan K-san sedang berdiri di luar menungguku. Ketika ia melihat wajahku, nenek mulai menangis.
"Aku senang sekali kau masih hidup," katanya.

Aku turun ke bawah dan terkejut melihat ayah dan ibuku sedang duduk di dapur. Kakek masuk dan berkata, "Cepatlah! Kita harus berangkat."

Kami berjalan ke pintu depan dan di sana ada sebuah mobil van hitam besar sedang menunggu di parkiran. Beberapa pria dari desa sedang berdiri mengelilinginya, menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya."
Mobil van itu memiliki 9 tempat duduk dan mereka menaruhku di tengah-tengah, dikelilingi oleh delapan pria. K-san duduk di kursi pengemudi. "Kau berada di tengah kesulitan. Aku tahu kau mungkin khawatir. Tundukkan saja kepalamu dan tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan buka matamu sampai kami berhasil mengamankanmu dari sini."
Kakek mengemudi di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami berkendara cukup pelan... sekitar 20 km/jam atau kurang. Setelah beberapa saat, K-san berkata, "Di sinilah yang mulai sulit," dan mulai komat-kamit membaca doa.
Saat itulah dimana aku mendengar suara tersebut.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Aku mencengkeram perkamen yang diberikan K-san padaku di tanganku erat-erat. Aku tetap menundukkan kepalaku, tetapi aku mengintip keluar. Aku melihat sebuah gaun putih berkibar di tiup angin. Ia bergerak mengikuti mobil van. Tingginya delapan kaki. Ia berada di luar jendela, namun ia terus melangkah bersama kami.
Lalu, tiba-tiba dia membungkuk dan mengintip ke dalam van.
"Tidak!" Aku terkesiap.

Pria di sampingku berteriak,
"TUTUP MATAMU!"
Aku segera berusaha keras untuk menutup mataku dan mengencangkan genggamanku pada lembaran perkamen. Lalu, mulai terdengar suara ketukan.
"Tap, tap, tap, tap, tap..."
Suara itu menjadi semakin keras.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Ada ketukan di seluruh jendela di sekeliling kami. Semua pria di dalam van kaget dan pada akhirnya, mereka bergumam sendiri. Mereka tidak bisa melihat si Tinggi Delapan Kaki dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, namun mereka bisa mendengar ketukan di jendela. K-san mulai berdoa keras-keras dan semakin keras sampai ia hampir seperti berteriak. Ketegangan di dalam van benar-benar tak tertahankan.

Setelah beberapa saat ketukan itu berhenti dan suaranya menghilang.
K-san menoleh ke arah kami dan berkata, "Kurasa kita sudah aman sekarang."
Semua pria di sekelilingku menghela nafas lega. Mobil van itu menepi di pinggir jalan dan semua pria keluar. Mereka memindahkanku ke dalam mobil ayahku. Ibuku memelukku dan air mata mengalir di pipinya.
Kakek dan ayahku menunduk pada para pria itu dan mereka pergi berjalan pulang. K-san berjalan ke jendela dan memintaku menunjukkan lembaran perkamen yang ia berikan padaku. Ketika aku membukanya, aku melihat lembaran itu berubah menjadi benar-benar hitam.

"Kurasa kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi untuk meyakinkannya, peganglah benda ini untuk sementara." Dia memberikan padaku selembar perkamen baru.

Setelah itu, kami berkendara menuju bandara dan kakek melihat kami aman berada di dalam pesawat. Ketika kami sudah lepas landas, orangtuaku menghela nafas lega. Ayahku memberitahuku ia pernah mendengar soal "Si Tinggi Delapan Kaki" sebelumnya. Bertahun yang lalu, temannya telah di sukai olehnya. Bocah laki-laki itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.
Ayahku berkata ada orang-orang lainnya yang telah di sukainya dan masih hidup untuk menceritakannya. Mereka semua harus pergi meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke kampung halaman mereka.
Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka bilang itu karena anak-anak masih bergantung pada orangtua dan anggota keluarganya. Ini membuat mereka mudah diperdaya ketika ia berpura-pura sebagai keluarganya.
Dia berkata bahwa para pria yang berada di dalam van semuanya memiliki hubungan darah denganku, dan itulah mengapa mereka duduk mengelilingiku dan mengapa ayah dan kakekku berkendara di depan dan di belakang. Itu semua di lakukan untuk mencoba membingungkan Hachisakusama. Butuh beberapa waktu untuk menghubungi mereka dan mengumpulkan mereka semua, itulah sebabnya mengapa aku di kurung di kamar semalaman.
Dia memberitahuku bahwa benda kecil yang di sebut patung Jizo (benda dimana seharusnya ia tetap terperangkap) telah rusak dan itulah bagaimana dia bisa lolos.

Hal itu membuatku merinding. Aku senang akhirnya kami bisa pulang ke rumah.
Semua ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku belum bertemu kakek dan nenekku lagi sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kakiku lagi di negeri itu. Setelah itu, aku akan menelepon mereka setiap beberapa minggu dan bicara dengan mereka melalui telepon.

Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah urban legend, bahwa semua yang telah terjadi hanyalah sebuah lelucon yang rumit. Namun, aku tidak terlalu yakin.
Kakekku meninggal dua tahun yang lalu. Ketika dia sakit, dia tidak mengizinkanku untuk menjenguknya dan dia juga meninggalkan perintah ketat dalam surat wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua sangat menyedihkan.

Nenekku menelepon beberapa hari yang lalu. Dia berkata bahwa dia didiagnosa mengidap penyakit kanker. Dia sangat merindukanku dan ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal.
"Apa kau yakin, nenek?" Tanyaku. "Apakah aman?"
"Sudah 10 tahun," katanya. "Semua itu telah terjadi lama sekali. Semuanya sudah terlupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Aku yakin tidak akan ada masalah."
"Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachisakusama?" Kataku.
Selama beberapa saat, ada keheningan di ujung telepon sana. Lalu, aku mendengar suara maskulin yang dalam.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."


Gimana?? Serem gak ceritanya?? Kalau nggak, ahh sudahlah :v
Sekian dulu cerita dari gw hari ini. Thanks for visiting our blog, and I'll see you guys in the upcoming stories..


Calvin K - IX C

Source : Scaryforkids.com
             Creepypasta Indonesia