Rabu, 05 Agustus 2015

Antara nyata dan khayalan

Hey everyone, come in. Selamat datang untuk kalian semua yang sudah mampir dan ini adalah cerita ke empat. Kalau nggak menakutkan, berharap saja kalian tidak mengalami hal yang sama. (Udah nggak usah merinding gitu. Ceritanya belum dimulai juga... :v)



Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu aku sedang sakit demam tinggi yang cukup parah. Kalian tahu saat demam tinggi orang bisa saja berhalusinasi. Ya, aku juga mengalami tahap itu. Rasa sangat mengerikan, antara nyata dan tidak nyata. Percaya deh. Saat itu aku di rawat di ruangan yang membosankan, tua, dan kusam bukannya di rumah sakit elit. Aku pernah mendengar cerita yang tidak-tidak dari rumah sakit itu, banyak hantu yang mengambil nyawa orang sakit. Katanya. Hal itu nggak lagi jadi pertimbangan, yang penting sembuh. Untung,  aku tidak sendiri ada pasien lain. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajak nya berbicara. Meskipun sakitku cukup parah, tapi aku tak tahan satu hari tak bicara.

“Woi!” Seruku walaupun aku tahu ini sudah malam, waktunya orang tidur. Karena dia diam, aku juga diam. Tiba-tiba ia bangun dengan gelagapan. Ia melihat ku dan berbicara setengah berbisik.
 “Oh tidak saya tidak boleh ada di sini. Tolong saya!” Aku mengeluh dalam hati, kok minta bantuan ke orang yang sakitnya parah. Aneh. Lalu ia mulai bangun dan mencoba keluar.
“Tolong saya! Saya akan mati di sini. Mereka akan membunuh saya. Sebentar lagi yang lainnya. Saya harus tetap hidup! Jangan biarkan saya mati! Ada kebenaran yang harus saya sebarkan.” Mendengar itu tentu aku merasa merinding sekaligus bingung. 

Untunglah datang seorang dokter bersama perawat yang masih muda sambil membawa suntikan berukuran sedang. Teman sekamarku mulai kalang kabut dan berteriak. 
"Pergi!!! Jangan dekati saya!!!Tidak!!!"
Aku kira ia over-dramatic karena takut suntikan. Dengan susah payah dokter dan perawat menyuntinya. Ia mulai tenang lalu diam. Samar-samar  aku mendengar suara sang dokter,
“ia sudah mati... Kita bisa tenang sekarang.”
“Iya benar. Kasihan sekali, ya?”
“Kasihan? Ia memang pantas menerimanya . Ia tahu terlalu banyak dan sangat membahayakan kita. Bagaimana dengan pasien yang sebelah? Apakah ia memperhatikan kita?”
“Kayaknya enggak, dok.” Jawab si perawat sambil memeriksaku dengan cepat. Sang dokter menatapku sejenak dengan tatapan mengerikan lalu mengangguk dan segera pergi.

Jlebb.. Aku tidak lagi sadar.
Tiba-tiba aku terbangun dan melihat teman sekamarku yang sangat tenang. Ia benar telah meninggal. Aku tak yakin apakah tadi aku tertidur atau terjaga. Sepertinya itu hanya halusinasi, tapi kok rasanya sangat nyata, ya?

Paginya, aku bercerita tentang apa yang aku lihat tadi malam kepada dokter yang memeriksaku. Dokter tua itu menyatakan itu hanya halusinasiku saja. Aku meyakinkan dokter bahwa rasanya seperti beneran. Tapi dokter tetap pada pendapatnya.
“Apakah saya akan membaik?” Tanyaku asal agak putus asa. Tiba-tiba aku merasa bingung dan aneh. Ku paksakan diriku untuk berpikir, mencoba mengingat sesuatu.
“Ya, kalau penyakitnya memang bertambah parah. Kamu bisa seperti pasien sebelah.” Balasnya dengan cara bicara yang tidak biasa.
Nah aku berhasil meningatnya. Gawat. Dokter ini adalah dokter yang sama dengan yang tadi malam. Aku juga mengerti tentang kebenaran yang teman sekamarku katakan dan cerita orang-orang. Bukan hantu yang mengambil nyawa mereka, dokter-nya malah. Aku benar-benar menyesal sudah bercerita. Aku harap ia benar, aku cuma berhalusinasi. Tapi saat kulihat kembali tatapan itu, aku tahu aku aku tidak punya pilihan.


Natasya Citra - IXC
Narasumber : suatu kotak dalam pikiran

Tidak ada komentar:

Posting Komentar