Rabu, 12 Agustus 2015

Hello guys, hari ini gue akan menceritakan kisah horror yang membuat bulu kuduk kalian berdiri dan juga membuat kalian merinding. Oke sekarang kita mulai ceritanya

Misteri kamar hotel 339

Pada saat liburan musim panas, Arya dan ayahnya pergi berlibur ke bali. Mereka berencana menginap di hotel yang dibangun sejak tahun 1910, hingga saat ini hotel ini masih berdiri kokoh, tapi hotel itu juga terkenal karena keangkerannya dan menyimpan banyak misteri. Ayahnya seorang penulis, sedangkan Arya seorang siswa SMA kelas 12. Ibunya telah meninggal sejak ia dilahirkan.

Mereka tiba di sebuah hotel yang tua, pada saat mereka memesan kamar hotel, penjaga itu berkata
"Maaf pak, sebaiknya bapak jangan memilih kamar dengan nomor 339!"Kata penjaga itu.
"Emang kenapa?"kata ayah Arya.
"Soalnya kamar itu dikenal keangkerannya pak."Kata penjaga itu.
Tapi ayah Arya tidak percaya dengan perkataan penjaga itu tadi, ia mengira itu cuma cerita saja dan berisikeras memilih kamar hotel itu.

Akhirnya penjaga itu menuruti kemauan ayah Arya. Sebaliknya Arya malah percaya kalau itu memang nyata, mereka lalu tiba tiba disebuah kamar hotel nomor 339. tapi keanehan pun terjadi, pintu itu terbuka dengan sendirinya, tapi ayah Arya berpikir itu cuma terkena angin. Tapi Arya merasa ketakutan.
"Ayah, aku melihat pintu itu terbuka dengan sendirinya." Jawab Arya dengan takut.
"Sudahalah Arya, itu cuma angin yang membuat pintu itu terbuka dengan sendirinya."Kata ayah Arya.

Pada saat mereka masuk, Arya melihat sebuah foto wanita dengan latar belakang yang mengerikan dan ia mengenakan kebaya warna putih. Tampaknya foto itu masih dipajang karena foto itu dibuat 100 tahun yang lalu, tapi ayah Arya mengatakan bahwa sebenarnya wanita itu sangat jelek dan suaranya sangat jelek.  Pada saat malam hari, Arya mendengar suara nyanyian sinden di kamar hotel tersebut dan foto wanita itu yang tadinya muka itu terlihat cantik kini terlihat lebih mengerikan.

Arya semakin ketakutan dengan kamar hotel tersebut, tapi ayah Arya tetap santai dan mengira suara itu lewat radio. Pada saat arya pergi ke toilet, tiba tiba ayah Arya merasa sesuatu yang aneh terjadi, ia melihat foto wanita yang semula ada menjadi tidak ada. tiba-tiba Arya mendengar suara ayahnya yang berteriak minta tolong, ternyata kaki ayahnya ditarik oleh seorang arwah yang tak lain adalah wanita di foto itu.

Ternyata arwah itu adalah seorang penyanyi sinden yang terkenal. Ia mulai dikenal sejak ia mulai berkarir, tapi karena ia dikhianati oleh penggemarnya karena perbuatan yang jahat dan suka mengancam penggemarnya, maka ia bunuh diri kamar hotel 399. Sejak itu, arwahnya tidak tenang karena setiap ada orang yang menjelek-jelekkan dia dan mengkhianatinya, maka ia mulai membunuh orang yang mengkhianatinya.

Arya mencari akal untuk menghilangkan wanita itu selama-lamanya, ia menemukan sebuah salib dan benda yang sangat tajam itu. Sementara itu ayahnya sedang diikat di kursi oleh arwah itu, arwah itu mengatakan bahwa ia akan mati karena mengkhianatinya dan menjelek-jelekkannya. Arya mulai masuk ke kamar mandi dan ia mulai menusuknya secara diam-diam

Tapi, arwah itu tau bahwa Arya akan membunuhnya, maka arwah itu mulai menahan pisau tersebut dan ia mulai melukai Arya, Arya melihat benda tajam lainnya yang tergeletak. Arya pun mengambil benda tajam tersebut dan ia mulai menempelkan salib ke dahi arwah tersebut dan menusuknya sampai menghilang.

Arya pun menolong ayahnya melepaskan ikatan itu, ayahnya meminta maaf kepada Arya karena ia tidak percaya padanya bahwa kamar itu sebenarnya angker, Arya memaafkan ayahnya dan pada keesokkan harinya, mereka memutuskan untuk tidak mengunjungi hotel itu lagi, mereka memilih untuk menginap di hotel yang nyaman dan bagus.

Guys, kita tau bahwa kita menganggap cerita orang lain tersebut cuma bohongan saja, tapi bisa juga menjadi kenyataan. So, mulai sekarang kalian harus memikirkan pendapat orang lain. Demikianlah ceritaku yang mengerikan ini semoga kalian tidak memikirkan hal ini lagi. Goodbye! Muahahahahaha.............

Evita Bunardi - IX C
Narasumber : Tidak diketahui         

Rabu, 05 Agustus 2015

Antara nyata dan khayalan

Hey everyone, come in. Selamat datang untuk kalian semua yang sudah mampir dan ini adalah cerita ke empat. Kalau nggak menakutkan, berharap saja kalian tidak mengalami hal yang sama. (Udah nggak usah merinding gitu. Ceritanya belum dimulai juga... :v)



Kisah ini terjadi beberapa bulan yang lalu. Pada saat itu aku sedang sakit demam tinggi yang cukup parah. Kalian tahu saat demam tinggi orang bisa saja berhalusinasi. Ya, aku juga mengalami tahap itu. Rasa sangat mengerikan, antara nyata dan tidak nyata. Percaya deh. Saat itu aku di rawat di ruangan yang membosankan, tua, dan kusam bukannya di rumah sakit elit. Aku pernah mendengar cerita yang tidak-tidak dari rumah sakit itu, banyak hantu yang mengambil nyawa orang sakit. Katanya. Hal itu nggak lagi jadi pertimbangan, yang penting sembuh. Untung,  aku tidak sendiri ada pasien lain. Aku mencoba mencairkan suasana dengan mengajak nya berbicara. Meskipun sakitku cukup parah, tapi aku tak tahan satu hari tak bicara.

“Woi!” Seruku walaupun aku tahu ini sudah malam, waktunya orang tidur. Karena dia diam, aku juga diam. Tiba-tiba ia bangun dengan gelagapan. Ia melihat ku dan berbicara setengah berbisik.
 “Oh tidak saya tidak boleh ada di sini. Tolong saya!” Aku mengeluh dalam hati, kok minta bantuan ke orang yang sakitnya parah. Aneh. Lalu ia mulai bangun dan mencoba keluar.
“Tolong saya! Saya akan mati di sini. Mereka akan membunuh saya. Sebentar lagi yang lainnya. Saya harus tetap hidup! Jangan biarkan saya mati! Ada kebenaran yang harus saya sebarkan.” Mendengar itu tentu aku merasa merinding sekaligus bingung. 

Untunglah datang seorang dokter bersama perawat yang masih muda sambil membawa suntikan berukuran sedang. Teman sekamarku mulai kalang kabut dan berteriak. 
"Pergi!!! Jangan dekati saya!!!Tidak!!!"
Aku kira ia over-dramatic karena takut suntikan. Dengan susah payah dokter dan perawat menyuntinya. Ia mulai tenang lalu diam. Samar-samar  aku mendengar suara sang dokter,
“ia sudah mati... Kita bisa tenang sekarang.”
“Iya benar. Kasihan sekali, ya?”
“Kasihan? Ia memang pantas menerimanya . Ia tahu terlalu banyak dan sangat membahayakan kita. Bagaimana dengan pasien yang sebelah? Apakah ia memperhatikan kita?”
“Kayaknya enggak, dok.” Jawab si perawat sambil memeriksaku dengan cepat. Sang dokter menatapku sejenak dengan tatapan mengerikan lalu mengangguk dan segera pergi.

Jlebb.. Aku tidak lagi sadar.
Tiba-tiba aku terbangun dan melihat teman sekamarku yang sangat tenang. Ia benar telah meninggal. Aku tak yakin apakah tadi aku tertidur atau terjaga. Sepertinya itu hanya halusinasi, tapi kok rasanya sangat nyata, ya?

Paginya, aku bercerita tentang apa yang aku lihat tadi malam kepada dokter yang memeriksaku. Dokter tua itu menyatakan itu hanya halusinasiku saja. Aku meyakinkan dokter bahwa rasanya seperti beneran. Tapi dokter tetap pada pendapatnya.
“Apakah saya akan membaik?” Tanyaku asal agak putus asa. Tiba-tiba aku merasa bingung dan aneh. Ku paksakan diriku untuk berpikir, mencoba mengingat sesuatu.
“Ya, kalau penyakitnya memang bertambah parah. Kamu bisa seperti pasien sebelah.” Balasnya dengan cara bicara yang tidak biasa.
Nah aku berhasil meningatnya. Gawat. Dokter ini adalah dokter yang sama dengan yang tadi malam. Aku juga mengerti tentang kebenaran yang teman sekamarku katakan dan cerita orang-orang. Bukan hantu yang mengambil nyawa mereka, dokter-nya malah. Aku benar-benar menyesal sudah bercerita. Aku harap ia benar, aku cuma berhalusinasi. Tapi saat kulihat kembali tatapan itu, aku tahu aku aku tidak punya pilihan.


Natasya Citra - IXC
Narasumber : suatu kotak dalam pikiran

Senin, 03 Agustus 2015

Hachisakusama (Eight Feet Tall)

Hello again everyone, and welcome back to our Creepy Stories!! Hari ini gw akan share Story ke 3, yaitu sebuah cerita (urban legend lebih tepatnya) dari Jepang tentang 'Hachisakusama'..

OK, daripada kalian penasaran, langsung aja cekidot guys, enjoy!!


"Hachisakusama (Eight Feet Tall)"

Kakek nenekku tinggal di Jepang. Setiap musim panas, orangtuaku akan membawaku kesana pada hari libur untuk mengunjungi mereka. Mereka tinggal di sebuah pedesaan kecil dan mereka memiliki halaman belakang yang luas. Aku suka bermain di sana selama musim panas. Saat kami tiba, kakek nenekku selalu menyambutku dengan tangan terbuka. Aku adalah satu-satunya cucu mereka, jadi mereka memanjakanku.

Terakhir kali aku melihat mereka adalah pada saat musim panas ketika aku berusia 8 tahun.
Seperti biasa, orangtuaku memesan tiket pesawat ke Jepang dan kami berkendara dari bandara menuju ke rumah kakek nenekku. Mereka sangat senang melihatku dan punya banyak hadiah kecil untuk diberikan padaku. Orangtuaku ingin menghabiskan beberapa waktu berdua saja, jadi setelah beberapa hari, mereka melakukan perjalanan ke daerah lain Jepang, dan meninggalkanku dalam pengawasan nenek dan kakek.

Suatu hari, aku sedang bermain di luar di halaman belakang. Kakek dan nenekku berada di dalam rumah. Saat itu cuaca panas di musim panas dan aku berbaring di rerumputan untuk beristirahat. Aku memandangi awan-awan dan menikmati merasakan sinar matahari yang lembut dan angin sepoi-sepoi. Pada saat aku baru saja akan bangun, aku mendengar sebuah suara aneh.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Aku tidak tahu suara apa itu, dan sulit untuk mengetahui darimana suara itu berasal. Suaranya hampir seperti seseorang sedang berbicara sendiri... Seperti mereka hanya mengucapkan, "Po... Po... Po", terus menerus dengan suara maskulin yang dalam.
Aku melihat ke sekeliling, mencari sumber suara tersebut ketika tiba-tiba aku melihat sesuatu di atas pagar tinggi yang mengelilingi halaman belakang. Itu adalah sebuah topi jerami. Benda itu tidak tergeletak di atas pagar, tetapi berada di baliknya. Di situlah suara itu berasal.

"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."
Kemudian, topi itu mulai bergerak, seperti ada seseorang yang memakainya. Topi itu berhenti pada sebuah celah kecil di pagar dan aku bisa melihat sebuah wajah sedang mengintip. Ia adalah seorang wanita. Tetapi pagar itu sangatlah tinggi... Hampir 8 kaki tingginya.

Aku terkejut mengingat betapa tingginya wanita itu. Aku bertanya-tanya apakah ia mengenakan jangkungan atau semacam sepatu berhak sangat tinggi. Lalu, sepersekian detik kemudian, wanita itu berjalan pergi dan suara aneh itu pun ikut menghilang bersamanya, menghilang dari pandangan.
Merasa bingung, aku bangun dan berjalan masuk ke rumah. Kakek dan nenekku sedang minum teh di dapur. Aku duduk di meja dan, setelah beberapa saat, aku menceritakan pada mereka apa yang telah aku lihat. Mereka tidak terlalu memperhatikanku sampai aku menyebutkan suara aneh itu.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Tak lama setelah aku mengucapkan itu, mereka berdua tiba-tiba membeku. Mata nenek mulai melebar dan ia menutup mulutnya dengan tangannya. Wajah kakek nampak sangat serius dan ia menarik tanganku.
"Ini sangat penting," katanya dengan nada kuat. "Kau harus benar-benar memberitahu kami... Seberapa tinggi dia?"
"Setinggi pagar kebun." Jawabku, mulai merasa ketakutan.
Kakekku memborbardirku dengan pertanyaan-pertanyaan ini... "Dimana dia berdiri? Kapan ini terjadi? Apa yang kau lakukan? Apakah ia melihatmu?"
Aku mencoba menjawab semua pertanyaannya sebisaku. Ia tiba-tiba bergegas pergi ke lorong dan menelepon. Aku tidak bisa mendengar apa yang ia katakan. Aku melihat ke arah Nenekku dan dia terlihat gemetar.
Kakekku kembali ke dalam ruangan dan berbicara pada nenekku.
"Aku harus keluar sebentar," katanya. "Kau tinggal di sini bersama anak itu. Jangan lepaskan pandanganmu darinya sedetikpun."
"Apa yang terjadi, Kakek?" Tangisku.

Dia melihatku dengan ekspresi sedih di matanya dan berkata, "Kau telah di sukai oleh Hachisakusama."
Bersama dengan itu, ia bergegas masuk ke dalam truknya dan pergi.
Aku berbalik ke nenekku dan dengan hati-hati bertanya, "siapa Hachisakusama?"
"Jangan khawatir," katanya dengan suara gemetar. "Kakek akan melakukan sesuatu. Kau tidak perlu khawatir."
Saat kami duduk di dapur dengan gugup sambil menunggu kakekku kembali, dia menjelaskan apa yang sedang terjadi. Dia menceritakan padaku bahwa ada maklhuk berbahaya yang menghantui daerah tersebut. Mereka memanggilnya "Hachisakusama" karena tingginya. Dalam bahasa Jepang, "Hachisakusama" artinya "Si Tinggi Delapan Kaki".

Ia berwujud seperti seorang wanita yang sangat tinggi dan ia mengeluarkan suara seperti, "Po... Po... Po..." dengan suara pria yang dalam. Wujudnya terkadang berbeda, tergantung siapa yang melihatnya. Beberapa orang mengatakan ia terlihat seperti seorang wanita tua kurus kering berpakaian kimono, dan yang lainnya mengatakan ia adalah seorang gadis dengan kain kafan putih. Satu hal yang tidak berubah adalah tingginya dan suara yang ia buat.
Pada zaman dahulu, ia ditangkap oleh para biksu dan mereka berhasil memenjarakannya di sebuah reruntuhan bangunan di pinggiran pedesaan. Mereka menjebaknya dengan menggunakan 4 patung relijius kecil yang disebut "Jizo", yang mereka tempatkan di sebelah Utara, Selatan, Timur dan Barat reruntuhan dan seharusnya makhluk itu tidak bisa pergi dari sana. Entah bagaimana, makhluk itu bisa lolos.

Terakhir kali makhluk itu muncul adalah 15 tahun yang lalu. Nenekku berkata bahwa siapapun yang melihatnya ditakdirkan akan mati dalam beberapa hari.
Semuanya terdengar sangat gila, aku tak yakin apa yang harus kupercayai.
Ketika kakek kembali, ada seorang wanita tua bersamanya. Dia memperkenalkan dirinya sebagai "K-san" dan ia menyerahkan padaku selembar perkamen kusut dan berkata, "Ini, ambil dan peganglah." Lalu, dia dan kakekku pergi ke atas untuk melakukan sesuatu. Aku ditinggalkan sendirian di dapur bersama nenekku lagi.
Aku ingin ke kamar mandi. Nenek mengikutiku ke kamar mandi dan tidak membolehkanku menutup pintunya. Aku mulai merasa benar-benar ketakutan dengan semua ini.
Setelah beberapa saat, kakek dan K-san mengajakku ke atas dan membawaku ke kamarku. Jendela-jendelanya telah ditutupi oleh kertas koran dan banyak rune kuno dituliskan pada kertas-kertas itu. Ada mangkuk kecil berisi garam di empat setiap sudut ruangan dan sebuah patung Buddha kecil di tempatkan di tengah-tengah ruangan di atas sebuah kotak kayu. Di sana juga terdapat sebuah ember berwarna biru cerah.

"Untuk apa ember itu?"tanyaku.
"Itu untuk buang air kecil dan buang air besar." Jawab kakek.
K-san mendudukkanku di tempat tidur dan berkata, "Sebentar lagi matahari akan terbenam, jadi dengarkan baik-baik. Kau harus tinggal di kamar ini sampai esok pagi. Kau tidak boleh keluar dalam keadaan apapun sampai pukul 7 besok pagi. Nenekmu dan kakekmu tidak akan berbicara padamu atau memanggilmu sampai saat itu. Ingatlah, jangan pergi dari kamar ini apapun alasannya sampai nanti. Aku akan memberitahu orangtuamu apa yang sedang terjadi."
Dia berbicara dengan nada amat sungguh-sungguh dan yang bisa kulakukan hanyalah diam sambil menganggukkan kepalaku.
"Kau harus mengikuti perintah K-san baik-baik," kakek memberitahuku. " Dan jangan pernah melepaskan perkamen yang ia berikan padamu. Dan jika terjadi sesuatu, berdoalah pada Buddha. Dan pastikan kau mengunci pintu ini ketika kami pergi."
Mereka berjalan menuju lorong dan setelah mengucapkan selamat tinggal pada mereka, aku menutup pintu kamar dan menguncinya. Aku menyalakan TV dan mencoba untuk menontonnya, namun aku sangat gugup, aku merasakan sakit pada perutku. Nenek meninggalkan beberapa makanan ringan dan bola-bola nasi untukku, namun aku tidak bisa memakannya. Aku merasa seperti berada di penjara dan aku sangat depresi dan ketakutan. Aku berbaring di atas tempat tidur dan menunggu. Sebelum aku mengetahuinya, aku tertidur.

Saat aku terbangun, saat itu baru saja pukul 1 AM. Tiba-tiba saja, aku menyadari ada sesuatu yang mengetuk-ngetuk jendela.
"Tap, tap, tap, tap, tap... "
Aku merasakan darah mengering dari wajahku dan jantungku berhenti berdetak. Dengan putus asa aku mencoba untuk menenangkan diriku, aku memberitahu diriku sendiri bahwa itu hanyalah suara angin atau mungkin suara ranting pohon. Aku membesarkan volume TV untuk meredam suara ketukan tersebut. Pada akhirnya, suara tersebut berhenti sama sekali.
Pada saat itulah ketika kakek memanggilku.
"Apa kau baik-baik saja di sana?" Tanyanya. "Kalau kau takut kau tidak perlu tinggal di sana sendirian. Aku bisa masuk dan menemanimu."

Aku tersenyum dan bergegas untuk membuka pintu, namun kemudian, aku menghentikan langkahku. Sekujur tubuhku terasa merinding. Suara itu terdengar seperti suara kakek, namun entah bagaimana, rasanya berbeda. Aku tak bisa menjelaskannya, aku hanya tahu itu...
"Apa yang kau lakukan?" Tanya kakek. "Kau boleh membuka pintunya."
Aku menoleh ke arah kiriku dan sebuah perasaan dingin merayapi tulangku. Garam di mangkuk perlahan berubah menjadi hitam.
Aku mundur dari pintu. Seluruh tubuhku gemetar ketakutan. Aku jatuh berlutut di hadapan patung Buddha dan mencengkram erat-erat lembaran perkamen di tanganku. Dengan putus asa aku mulai berdoa untuk pertolongan.
"Tolong selamatkan aku dari Hachisakusama..." Raungku.
Kemudian, aku mendengar suara di luar pintu berkata,
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Ketukan jendela mulai terdengar kembali. Aku dikuasai oleh rasa takut dan aku berjongkok di depan patung, setengah menangis dan setengah berdoa selama sisa malam itu. Rasanya seperti tidak akan berakhir, namun akhirnya ternyata hari sudah pagi. Semua garam di 4 mangkuk itu benar-benar menjadi hitam pekat.
Aku memeriksa jam tanganku. Sudah pukul 7.30 AM. Dengan hati-hati aku membuka pintu. Nenek dan K-san sedang berdiri di luar menungguku. Ketika ia melihat wajahku, nenek mulai menangis.
"Aku senang sekali kau masih hidup," katanya.

Aku turun ke bawah dan terkejut melihat ayah dan ibuku sedang duduk di dapur. Kakek masuk dan berkata, "Cepatlah! Kita harus berangkat."

Kami berjalan ke pintu depan dan di sana ada sebuah mobil van hitam besar sedang menunggu di parkiran. Beberapa pria dari desa sedang berdiri mengelilinginya, menunjuk ke arahku dan berbisik, "Itu anaknya."
Mobil van itu memiliki 9 tempat duduk dan mereka menaruhku di tengah-tengah, dikelilingi oleh delapan pria. K-san duduk di kursi pengemudi. "Kau berada di tengah kesulitan. Aku tahu kau mungkin khawatir. Tundukkan saja kepalamu dan tutup matamu. Kami tidak bisa melihatnya, tapi kau bisa. Jangan buka matamu sampai kami berhasil mengamankanmu dari sini."
Kakek mengemudi di depan dan mobil ayahku mengikuti di belakang. Ketika semua orang sudah siap, konvoi kecil kami mulai bergerak. Kami berkendara cukup pelan... sekitar 20 km/jam atau kurang. Setelah beberapa saat, K-san berkata, "Di sinilah yang mulai sulit," dan mulai komat-kamit membaca doa.
Saat itulah dimana aku mendengar suara tersebut.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Aku mencengkeram perkamen yang diberikan K-san padaku di tanganku erat-erat. Aku tetap menundukkan kepalaku, tetapi aku mengintip keluar. Aku melihat sebuah gaun putih berkibar di tiup angin. Ia bergerak mengikuti mobil van. Tingginya delapan kaki. Ia berada di luar jendela, namun ia terus melangkah bersama kami.
Lalu, tiba-tiba dia membungkuk dan mengintip ke dalam van.
"Tidak!" Aku terkesiap.

Pria di sampingku berteriak,
"TUTUP MATAMU!"
Aku segera berusaha keras untuk menutup mataku dan mengencangkan genggamanku pada lembaran perkamen. Lalu, mulai terdengar suara ketukan.
"Tap, tap, tap, tap, tap..."
Suara itu menjadi semakin keras.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."

Ada ketukan di seluruh jendela di sekeliling kami. Semua pria di dalam van kaget dan pada akhirnya, mereka bergumam sendiri. Mereka tidak bisa melihat si Tinggi Delapan Kaki dan mereka tidak bisa mendengar suaranya, namun mereka bisa mendengar ketukan di jendela. K-san mulai berdoa keras-keras dan semakin keras sampai ia hampir seperti berteriak. Ketegangan di dalam van benar-benar tak tertahankan.

Setelah beberapa saat ketukan itu berhenti dan suaranya menghilang.
K-san menoleh ke arah kami dan berkata, "Kurasa kita sudah aman sekarang."
Semua pria di sekelilingku menghela nafas lega. Mobil van itu menepi di pinggir jalan dan semua pria keluar. Mereka memindahkanku ke dalam mobil ayahku. Ibuku memelukku dan air mata mengalir di pipinya.
Kakek dan ayahku menunduk pada para pria itu dan mereka pergi berjalan pulang. K-san berjalan ke jendela dan memintaku menunjukkan lembaran perkamen yang ia berikan padaku. Ketika aku membukanya, aku melihat lembaran itu berubah menjadi benar-benar hitam.

"Kurasa kau akan baik-baik saja sekarang," katanya. "Tapi untuk meyakinkannya, peganglah benda ini untuk sementara." Dia memberikan padaku selembar perkamen baru.

Setelah itu, kami berkendara menuju bandara dan kakek melihat kami aman berada di dalam pesawat. Ketika kami sudah lepas landas, orangtuaku menghela nafas lega. Ayahku memberitahuku ia pernah mendengar soal "Si Tinggi Delapan Kaki" sebelumnya. Bertahun yang lalu, temannya telah di sukai olehnya. Bocah laki-laki itu menghilang dan tidak pernah terlihat lagi.
Ayahku berkata ada orang-orang lainnya yang telah di sukainya dan masih hidup untuk menceritakannya. Mereka semua harus pergi meninggalkan Jepang dan menetap di luar negeri. Mereka tidak pernah bisa kembali ke kampung halaman mereka.
Dia selalu memilih anak-anak sebagai korbannya. Mereka bilang itu karena anak-anak masih bergantung pada orangtua dan anggota keluarganya. Ini membuat mereka mudah diperdaya ketika ia berpura-pura sebagai keluarganya.
Dia berkata bahwa para pria yang berada di dalam van semuanya memiliki hubungan darah denganku, dan itulah mengapa mereka duduk mengelilingiku dan mengapa ayah dan kakekku berkendara di depan dan di belakang. Itu semua di lakukan untuk mencoba membingungkan Hachisakusama. Butuh beberapa waktu untuk menghubungi mereka dan mengumpulkan mereka semua, itulah sebabnya mengapa aku di kurung di kamar semalaman.
Dia memberitahuku bahwa benda kecil yang di sebut patung Jizo (benda dimana seharusnya ia tetap terperangkap) telah rusak dan itulah bagaimana dia bisa lolos.

Hal itu membuatku merinding. Aku senang akhirnya kami bisa pulang ke rumah.
Semua ini terjadi lebih dari 10 tahun yang lalu. Aku belum bertemu kakek dan nenekku lagi sejak saat itu. Aku belum mampu menginjakkan kakiku lagi di negeri itu. Setelah itu, aku akan menelepon mereka setiap beberapa minggu dan bicara dengan mereka melalui telepon.

Selama bertahun-tahun, aku mencoba meyakinkan diriku sendiri bahwa itu hanyalah sebuah urban legend, bahwa semua yang telah terjadi hanyalah sebuah lelucon yang rumit. Namun, aku tidak terlalu yakin.
Kakekku meninggal dua tahun yang lalu. Ketika dia sakit, dia tidak mengizinkanku untuk menjenguknya dan dia juga meninggalkan perintah ketat dalam surat wasiatnya bahwa aku tidak boleh menghadiri pemakamannya. Itu semua sangat menyedihkan.

Nenekku menelepon beberapa hari yang lalu. Dia berkata bahwa dia didiagnosa mengidap penyakit kanker. Dia sangat merindukanku dan ingin bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum ia meninggal.
"Apa kau yakin, nenek?" Tanyaku. "Apakah aman?"
"Sudah 10 tahun," katanya. "Semua itu telah terjadi lama sekali. Semuanya sudah terlupakan. Kau sudah dewasa sekarang. Aku yakin tidak akan ada masalah."
"Tapi... tapi... bagaimana dengan Hachisakusama?" Kataku.
Selama beberapa saat, ada keheningan di ujung telepon sana. Lalu, aku mendengar suara maskulin yang dalam.
"Po... Po... Po... Po... Po... Po... Po..."


Gimana?? Serem gak ceritanya?? Kalau nggak, ahh sudahlah :v
Sekian dulu cerita dari gw hari ini. Thanks for visiting our blog, and I'll see you guys in the upcoming stories..


Calvin K - IX C

Source : Scaryforkids.com
             Creepypasta Indonesia

Sabtu, 01 Agustus 2015

Minna-san Domo, Today We'll  Discuss About CREEPY STORIES!! Muahahahahaha..
Gurau aje bro.. santai2 
Ikuti Petualangannya!! *CeritanyaPaddlePop

Story 1 : 2 / 3 ?
Pada suatu hari, ada seorang anak laki laki yang baru pulang dari sekolahnya, lalu ia menemukan foto seorang anak perempuan cantik dalam foto sedang berpose dgn gaya menunjukkan 2 jarinya (biasa kita sebut piss) Ia menyukai anak perempuan itu, selain tampangnya cantik, anak itu juga manis #eww.. lalu anak itu pun pulang. dalam perjalannya dia menanyakan semua temannya, tetangganya, bahkan anjing peliharaannya "apakah anda mengenal anak perempuan yg ada didalam foto ini?" dan semua orang menjawab dengan hal yang sama yaitu.. "Tidak, Maaf"

Sesaat sampai dirumah, ia bertanya kepada ayah juga ibunya, dan jawabannya tetap sama. Pada saat malam hari, ia menaruh foto anak itu di samping tempat tidurnya.. dan pada saat tengah malam ia mendengar seperti ada sesuatu yang mengetuk dan mengores jendela kamarnya.. ia sangat ketakutan dan memberanikan diri untuk melihatnya.. tetapi tidak ada apa2 

Ke esokkan harinya, ia bangun dan langsung bertanya pada pembantunya dan abangnya, tetapi jawabannya tetap sama, mereka tidak mengetahuinya, dan pada malam harinya lagi ia mendengar ada yg mengetuk dan menggores jendela kamarnya lagi, tetapi malam ini berbeda dn malam sebelumnya, anak ini mengambil foto anak itu dan mendegar suara orang bernyanyi dengan merdunya, ia dengan tiba2 melompat dari jendela sambil memegang foto anak itu tanpa menghiraukan apapun dan tetap berjalan mencari arah suara itu, setelah sampai ditengah jalan, anak itu tidak menyadari kalau ia telah berhenti, dan sebuah mobil melesat dengan kencangnya dan menabrak anak itu hingga tewas, nyawa anak itu tidak bisa diselamatkan, orang yang menabraknya memperhatikan dengan jelas bahwa anak itu memegang sebuah foto

Benar.. Didalam foto itu terdapat foto anak perempuan yang cantik dan manis sedang berpose menunjukkan 3 jarinya.

- Hanzen - IX C
-Narasumber : Kisah Nyata.
Minna-san Domo, Today We'll Gonna Discuss About CREEPY STORIES!! Muahahahaha..
Canda Aja Bro.. Santai2
Ikuti Petualangannya!! #CeritanyaPaddlePop

Story 2 : "TRAP"

Aku melihat laptop tergeletak tanpa pengawasan di atas meja cafe. Secarapribadi aku tak menginginkannya, naun aku tau kalau benda itu cukup berharga. Dengan waspada ku lihat sekeliling, tampanya aman. Ketika tak ada seorangpun yang memperhatikan, aku segera beranjak dari tempat duduk kemudian berjalan menuju meja di mana laptop berada. Ku ambil laptop itu beserta chargernya lalu melenggang pergi dengan santai seolah sedang membawa barang milikku sendiri. Aku tak percaya, Begitu Mudahnya.

Yang harus kulakukan selanjutnya adalah me-refresh hard drive sekaligus semua data yg tersimpan dalam laptop, kemudian aku bisa menjualnya.

 Sesampainya di rumah, aku menemukan bahwa si idiot pemilik laptop ini tidak memasang password, tolol sekali. Aku membuka desktop dan masuk ke folder dokumen. Di sana banyak tersimpan gambar serta file file video. Pensaran, aku pun memeriksaya.

Pada mulanya itu hanya gambar-gambar hewan, ruangan terbuka, dan pemandangan. akupun menghapus , lalu beralih ke file selanjutnya.

Gambar pertama, adalah gambar serang pria tanpa busana di dalam basement. Namun gambar selanjutnya menunjukkan ekspresi ketakutan sesosok perempuan dan laki laki yang tengah di pancung dan disiksa.

Apa-apaan ini? ini bukanlah gambar-gambar sadis biasa, ini memperlihatkan manusia yang tengah dipaksa untuk memakan satu sama lain, mutilasi, serta penyiksaan. Muntahlah aku dibuatnya!

Aku tak mau tahu bagaimana video video itu bisa ada, yang aku tau entah harus menghapusnya, atau melaporkannya pada pihak berwajib? Masa bodoh, hal ini terlalu mengerikan untuk ditutupi, aku harus memberi tahu seseorang.

Sembari tengah kelabakan mencari ponsel, ku dengar pintu depan rumahku di ketuk. aneh, siapasih yang datang malam-malam begini.

Tapi.. saat aku menoleh ke layar laptop kulihat sederet tulisan kecil pada pojok bawah yang bertuliskan, "Pelacak GPS diaktifkan..."

- Winston Ng - IX C
Narasumber : CreepyPASTA-Ind