Kamis, 10 September 2015

Mae Nak Phra Khanong

Heyyo guys!! welcome back again.. I want to share another story, and this time was based on a true story from Thailand
Cerita ini menceritakan tetang kisah percinta yang sejati, yang setia sehidup semati


Mae Nak Phra Khanong



Bagi kalian penggemar film horror Thailand pasti udah tau sama film horror Thailand yang berjudul MAE NAK , film ini udah beberapa kali di re-make atau dibuat ulang, namun tau kah kalian bahwa film berkisahkan cinta sejati ini berdasarkan kisah nyata?



Kisah ini telah dibuat dalam beberapa film sejak era film bisu dengan salah satu yang paling terkenal adalah Mae Nak Phra Khanong pada tahun 1958 . Legenda ini juga diadaptasi menjadi sebuah opera, Mae Nak, oleh komposer Thailand Somtow Sucharitkul . Tahun 1999 film Nang Naak diremake oleh sutradara asal kerajaan Thailand Nonzee Nimibutr. Sineas asal Britania Raya Mark Duffeld menyutradarai ulang pada tahun 2005 dengan judul Nâak Rák Táe (Cinta Sejati Naak). Dan terakhir diremake ulang pada tahun 2012 lalu dalam format 3D.
Mae Nak Phrakhanong adalah kisah hantu terkenal yang menjadi favorit di antara rakyat Thailand. Bercerita tentang kehidupan hantu istri yang setia dan suami yang tidak curiga bahwa istrinya adalah hantu.

Berikut kisah legenda hantu Thailand tersebut..

Seabad lalu, pada masa pemerintahan Raja Mongkut (1851-1868), saat Bangkok masih disebut “Venesia dari Timur Jauh, ada gadis cantik bernama Nang Naak. Nang Naak jatuh cinta pada pemuda tampan bernama Nai Maak. Mereka tumbuh bersama didesa yang sama, namun hubungan keduanya mendapat tentangan dari keluarga Maak, yang dikisahkan berasal dari keluarga kaya. Sedangkan Naak, hanya berasal dari keluarga sederhana. Tidak peduli pada kerikil atau lancarnya hubungan itu, mereka berdua akhirnya menikah dan hidup bersama. Tak lama setelah pernikahan itu, Nai Maak kemudian menjadi sukarelawan wajib militer berperang melawan Cina, ia meninggalkan istri yang mengandung anaknya dengan kesedihan dan ketakutan yang mungkin akan muncul. Karena luka parah yang diderita Maak akibat peperangan, ia kemudian mendapatkan perawatan yang cukup lama disebuah kuil. Sebagai istri yang setia, Mae (nyonya) Naak selalu menantikan saat2 kembalinya sang suami, namun hari tersebut tidak pernah ada hingga akhir hayatnya.

Berbulan bulan setelah kepergiannya, hari itu Maak kembali ke desanya, sungai yang membelah daratan dimana ditepian sungai tersebut rumahnya berada, telah disusurinya. Kampung itu nampak sepi dan sunyi, ada rasa ragu dihatinya, kemana penduduk desanya? Kenapa begitu sunyi? Namun keraguan itu tak berlangsung lama ketika sosok perempuan yang sedang duduk dimuka rumah panggungnya ditepi sungai. Ia duduk menimang bayinya. Ia yakin itu adalah Naak, istrinya dan bayi itu pastilah putranya yang lahir ketika ia berperang. Perahunya mendekat, ia tak sabar ingin segera menyapa istri dan anaknya yang telah ia tinggalkan berbulan bulan lamanya. Maak menyapa dan memeluk istri dan bayi mereka dengan suka cita, namun istrinya tidak banyak bicara, hanya sorot matanya yang sayu melukiskan kerinduan yang amat dalam pada suaminya. Pertemuan yang agak aneh itu terjadi sangat cepat namun mengesankan. Keluarga itu kembali berkumpul dan berbahagia.

Kehidupan selanjutnya bukanlah hal yang mudah bagi Maak, hari harinya penuh dengan mimpi buruk karena trauma perang. Namun demikian, sebagai istri yang baik, Naak selalu melayani suaminya dengan sebaik-baiknya. Hari berganti hari, bulan berjalan, suatu pagi terlihat oleh Maak kepala biara datang bersama beberapa pendeta muda lain menuju rumahnya. Kepala pendeta itu melihat suasana rumah Maak yang lusuh, berdebu dan penuh dengan sarang laba-laba, seperti rumah yang tak berpenghuni sekian lama. Kepala pendeta telah mendengar kembalinya Maak selesai berperang, namun yang membuat kepala pendeta tsb cemas adalah cerita penduduk yang dulu pernah menjadi tetangga dekat di kampung yang sama dengan Maak. Bahwa mereka meninggalkan kampung Maak disepanjang tepian sungai karena hantu Naak yang sering bergentayangan menyebar terror di kampung mereka.

Mae Naak sebetulnya telah meninggal berbulan-bulan yang lalu jauh sebelum suaminya kembali dari perang. Dan sesungguhnya Maak telah pulang kerumah yang tak berpenghuni. Lalu siapa yang selama ini menemani dan merawat dia? Apakah betul istrinya Mae Naak? Saat hatinya galau, kepala pendeta itu menyuruhnya untuk melihat Naak yang saat itu sedang memasak dibelakang rumah, dengan cara membungkukkan badan dan melihat siapa Naak sebenarnya diantara kedua kaki yang dibentangkan. Yang terlihat kemudian oleh Maak adalah peralatan memasak itu bergerak sendiri, tidak ada seorangpun disana. Jadi selama ini hantu Naak telah mengelabui penglihatan Maak. Rumah yang selama ini dia lihat begitu bersih dan sejuk tiba-tiba nyata terlihat seperti yang disaksikan kepala pendeta itu: lusuh, berdebu, sangat kotor dan hampa. Lalu bagaimana ia meninggal? Pendeta itu berkisah: Saat hari bersalin tiba, dalam badai Naak berusaha melahirkan bayinya, namun persalinan itu berakhir dengan kematian, bayi itu mati bersama ibunya. Naak meninggal dalam kesedihan dan kerinduan. Para tetangga yang bersimpati menguburkan mereka secara baik-baik, tapi arwah Naak tetap bergentayangan. Ketika Maak kembali dari perang, hantu Naak menjelma menjadi manusia. Kisah cinta misterius itu serta merta berubah menjadi adegan horror.

Begitu mendengar kenyataan yang telah dikisahkan Kepala Pendeta, Maak lari dan tersadar bahwa selama ini, ia telah hidup bersama hantu istri dan bayinya. Hantu Naak terus mengikuti kemanapun Maak pergi. Selama perburuan itu hantu Naak berlaku brutal dan tidak segan membunuh siapa saja yang menghalanginya. Penduduk desa kemudian mendatangkan dukun, para pemuka agama bahkan pengusir setan yang dari berbagai penjuru di Thailand untuk melawan hantu Naak, namun usaha itu sia sia. Hantu itu terus mebunuh siapa saja yang menghalanginya bahkan para pendeta yang sedang mengamankan Maak di dalam kuil.
Akhirnya seorang pendeta muda yang datang dari daerah yang cukup jauh berhasil mendamaikan arwah penasaran Naak, beberapa versi legenda ini percaya, dialah Somdej Phra Puttajan dari Thonburi, kabarnya ia menggali kembali kubur Naak dan memberi semacam pasak yang konon ditinggalkan oleh Pangeran dari Chumporn. Pasak bertali itu kemudian dililitkan di kepala Naak, dan lenyap kedalam tengkoraknya.
Nai Maak yang berduka kemudian memutuskan untuk menjadi pendeta

Sekarang tempat pemakaman Nang Naak menjadi salah satu tempat yang kerap dikunjungi wisatawan dari berbagai penjuru di Thailand bahkan turis manca negara. Makam itu terletak di batas kompleks kuil Mahabute di On Nut, Sukumvit Soi 77, Bangkok. Kini, baik kuil maupun penduduk yang tinggal disekitarnya mendapatkan rejeki dari kepopuleran legenda Nang Naak. Kuil ini dibangun layaknya sebuah rumah bagi Nang Naak dan anaknya, dan bukan sebuah kuil konvensional. Banyak buket-buket bunga, kosmetik, mainan, popok bayi, dan botol susu sebagai hadiah untuk anaknya. Bahkan, yang menarik disini adalah TV yang selalu dibiarkan menyala, karena masyarakat yakin Nang Naak masih tetap ada di tempat itu.
Kebanyakan orang yang datang, meminta petunjuk akan peruntungan karena wanita ini dikenal mampu memenangkan lotere. Tak heran, di luar kuil banyak pedagang menjual tiket lotere, peramal keberuntungan, dan penjual ikan emas (sebagai simbol nasib baik). Tidak hanya mereka yang mencari kemenangan undian, namun kuil ini juga populer untuk pria-pria yang hendak pergi wajib militer. Nang Naak juga dikenal mampu menghilangkan berbagai hambatan hidup, sehingga berbagai kalangan usia datang ke tempat ini. Namun wanita yang meminta kesuburan atau wanita yang sedang hamil, dianjurkan untuk menghindari tempat ini karena berbagai alasan tertentu.

Kania A - IX C
Source : terselubungi.com

Tomino no Jigoku (Neraka Tomino)

Hey guys! welcome back heree.. kali ini gw akan mengulas sedikit ceita tentang puisi kematian yg lebih tepatnya urban legend dari Jepang.
SO HERE WE GO!!

Misteri Puisi Kematian Tomino




Sebuah kisah seram datang dari Jepang. Tentang sebuah puisi berjudul "Tomino no Jigoku" atau Neraka Tomino, berisikan lirik-lirik mengerikan. Jangan pernah membaca dengan suara lantang, cukup di dalam hati. Atau kamu siap memanggil kematian datang menghampiri.
Kisah menyeramkan puisi Tomino berkembang di kalangan masyarakat Jepang dan menjadi salah satu legenda urban. Ada sebuah cerita yang membuat kita semakin merinding sehubungan dengan asal-muasal puisi ini.

Tomino adalah seorang gadis kecil yang terlahir cacat. Ia menuliskan puisi yang kemudian ditunjukkan kepada orang tuanya. Melihat isi puisi Tomino yang menyeramkan, orang tuanya menghukum Tomino dengan mengurungnya dalam gudang sempit dan tidak memberinya makan. Beberapa hari kemudian, Tomino meninggal dengan tidak wajar.

Konon, semenjak peristiwa itu puisi buatan Tomino jadi menyeramkan. Cerita dari mulut ke mulut berkembang dan memperingatkan, jangan pernah membaca dengan suara lantang karena bakal mengundang bencana.

Kemungkinan cerita yang berkembang di atas hanya sebatas kisah urban. Puisi berjudul "Neraka Tomino" sendiri sebenarnya dimuat dalam buku kompilasi puisi Yomota Inuhiko "The Heart is Like a Rolling Stone" (心は転がる石のように). Di dalamnya memuat berbagai koleksi puisi, termasuk puisi "Tomino no Jigoku" karya Saizo Yaso dari tahun 1919. Nah, entah bagaimana sehingga puisi tersebut berkembang menjadi legenda urban nan menyeramkan.

Nah, buat kalian yang penasaran sama puisinya, ini gw ada puisi berserta artinya.
Sekedar saran, lebih baik baca dalam hati aja ya.

Tomino no Jigoku


ane wa chi wo haku, imoto wa hihaku, kawaii tomino wa tama wo haku hitori jihoku ni ochiyuku tomino, jigoku kurayami hana mo naki.

muchi de tataku wa tomino no aneka, muchi no shubusa ga ki ni kakaru.

tatake yatataki yare tataka zutotemo, mugen jigoku wa hitotsu michi. kurai jigoku e anai wo tanomu, kane no hitsu ni, uguisu ni. kawa no fukuro ni yaikura hodoireyo, mugen jigoku no tabishitaku.

haru ga kitesoru hayashi ni tani ni, kurai jigoku tanina namagari. kagoni yauguisu, kuruma ni yahitsuji, kawaii tomino no me niya namida. nakeyo, uguisu, hayashi no ame ni imouto koishi to koe ga giri.

nakeba kodama ga jigoku ni hibiki, kitsunebotan no hana ga saku. jigoku nanayama nanatani meguru, kawaii tomino no hitoritabi.

jigoku gozarabamo de kitetamore, hari no oyama no tomebari wo. akai tomehari date niwa sasanu, kawaii tomino no mejirushini.

======================================================================


Neraka Tomino


Kakak yang memuntahkan darah, adik yang meludahkan api Tomino yang lucu meludahkan permata yang berharga

Tomino meninggal sendirian dan terjatuh ke dalam neraka Neraka kegelapan, tanpa dihiasi bunga

Apakah itu kakak Tomino memegang cambuk? Jumlah bekas luka berwarna merah sangatlah mengkhawatirkan Dicambuk ,BRdan dipukul sangatlah mendebarkan,

Jalan menuju neraka yang kekal hanyalah salah satu cara Mohon bimbingan ke dalam neraka kegelapan,

Dari domba emas, dan dari burung bulbul Berapa banyak yang tersisa dari dalam bungkusan kulit, Disiapkan untuk perjalanan tak berujung menuju neraka

Musim semi akan segera datang ke dalam hutan serta lembah, Tujuh tingkat di dalam gelapnya lembah neraka

Dalam kandang burung bulbul, dalam gerobak domba, Di Mata Tomino Yang Lucu Meneteskan airmata tangisan burung bulbul, dibalik hujan dan badai Menyuarakan cintamu untuk adik tersayangmu

Gema tangisanmu melolong melalui neraka, serta darah memekarkan bunga merah

Melalui tujuh gunung dan lembah neraka, Tomino yang lucu berjalan sendirian Untuk menjemputmu ke neraka,

Duri-duri berkilauan dari atas gunung menancapkan duri ke dalam daging yang segar, Sebagai tanda untuk Tomino yang lucu.

Gimana? apa kalian berani membacanya dengan lantang?

Kania A - IX C
Source : www.apakabardunia.com

Selasa, 08 September 2015

Misteri Kipas Merah

Dahulu kala, di sebuah rumah dusun, tinggallah Linda dan ibunya. Ayahnya telah meninggal dunia sejak Linda lahir, setiap hari mereka hidup sederhana, pekerjaan ibunya hanya mencukupi kebutuhan hidupnya. Ibunya ingin putrinya yang sekarang duduk di bangku SMA kelas 3, setelah pulang sekolah Linda langsung membantu ibunya berjualan kue.

Pada saat itu, tiba-tiba Linda menemukan benda yang tergeletak di tanah, itu adalah kipas berwarna merah. Ia langsung mengambilnya, dan pada malam hari udara terasa sangat panas, ia memakai kipas merah itu lalu ia segera tidur. Pada saat ia tidur, seorang wanita cantik menghampirinya, Dia melihatnya dan mengipasinya.

Pada saat pagi hari, wanita itu pun pergi. Linda pun terbangun, ia merasa ada aneh saat ia tidur, lalu pada malam harinya lagi, wanita itu muncul lagi dan melakukannya seperti ia lakukan kemarin. Kali ini Linda pun ingin mencari tahu siapa yang melakukan itu. Pada malam hari ia pun tidur, wanita itu kembali datang. Linda akhirnya terbangun, ternyata seorang gadis cantik.

Ibunya mendengar ada suara aneh, pada saat ia melihat dari balik pintu, ternyata Linda berbicara dengan wanita cantik. Ibunya mengira wanita itu adalah siluman. Keesokan harinya, pada saat Linda turun dari tangga, ibunya bertanya kepada Linda. Linda bilang bahwa sebenarnya itu temannya, ia pun sudah janjian dengan dia. Ibunya masih tidak percaya kepadanya.

Dengan memakai kipas merah tersebut, ia bisa menemui wanita tersebut. Ia bisa ngobrol dengan dia setiap tengah malam, ia selalu tidur dengan cepat. Ibunya pun merasa ketakutan terhadap anaknya tersebut, akhirnya ia berencana memanggil semua warga untuk mengusir roh jahat itu.

Pada tengah malam, ibunya pergi ke rumah RT untuk memanggil semua warga untuk mengusir roh jahat itu, Linda sedang asyik mengobrol dengan wanita cantik itu. Tiba-tiba wanita cantik itu langsung mencekik Linda, Linda tidak tahu kenapa ia mencekiknya. Ternyata wanita cantik itu ingin Linda mati dan arwahnya ikut dengannya.

Beruntung pada saat ia dicekik, warga setempat datang dan menyelamatkankan Linda, mereka segera masuk ke kamar Linda dan mengalahkan wanita itu, tapi usaha tersebut gagal. Akhirnya pak RT menemukan kipas merah tersebut, kipas merah itu yang menyebabkan wanita itu muncul, lalu pak RT pun membakar kipas itu dan wanita itu hilang selamanya.

Pak RT menjelaskan kepada Linda bahwa sebenarnya kipas itu milik istrinya, tapi istrinya membuang kipas yang masih bagus itu ke tanah. Wanita yang melihatnya langsung marah dan arwahnya masuk ke dalam kipas itu, dan sejak itu jika siapa pun yang mengambilnya ia akan membunuhnya.

Akhirnya Linda pun meminta maaf kepada ibunya karena kesalahannya. Ibunya memaafkan dia. Akhirnya Linda dan ibunya hidup kembali dengan senang hati, dan Linda berjanji tidak akan mengulangi kesalahannya lagi

Evita Bunardi - IX C
Narsumber : tidak diketahui

Senin, 07 September 2015

I Am a Good Parent

Nah, ketemu lagi nih di Creepy Stories.. Ini cerita kedua yang gw post. Tanpa basa-basi lagi, cekidot guys..

"I Am a Good Parent"

Aku punya dua anak.

Mereka manis sekali. Yang pertama anak lelaki berumur 4 tahun dengan jiwa petualang, namun sangat sopan. Yang kedua bayi perempuan berumur 6 bulan yang senang mengoceh. Mereka berdua adalah obyek kasih sayang melimpah dariku dan suamiku. Kami ingin mengajari anak-anak kami agar mereka tumbuh menjadi apapun yang mereka inginkan. Kami ingin mendidik mereka agar cerdas dan selalu penuh rasa ingin tahu.

Ada orangtua yang menolak menjelaskan apa-apa kalau anak-anak mereka bertanya ini itu. Mereka memerintah-merintah anak-anak, mengharapkan mereka untuk menurut setiap kata tanpa banyak tanya. "Karena papa/mama bilang begitu!" Begitulah alasan yang biasa diberikan. Orangtua yang lain hanya menolak untuk menjelaskan lebih rinci tentang hal-hal yang ditanyakan anak-anak. "Dari dulu memang begitu, stop tanya-tanya!"

Aku yakin orangtua seperti itu hanya tidak mau berpikir. Mereka membuat anak-anak tumbuh menjadi generasi cuek dan tidak pedulian akan keadaan sekeliling mereka, tapi tidak dengan kami. Anak-anak seharusnya memahami dunia di sekitar mereka. Kami ingin mereka bertanya, meneliti, berpikir keras, dan mengambil kesimpulan. Kebanyakan orang dewasa meremehkan kemampuan pemahaman anak-anak, tapi kami lebih baik dari itu.

Kami punya dua anak, dan kami akan membuat mereka hebat.

Anak sulung kami mulai rajin bertanya-tanya, misalnya: "papa, mama, kenapa lasagna buatan mama dibuang?" Kami tidak bilang "karena lasagnanya sudah basi." Apa yang akan ia pelajari? Kami tahu ia menyayangi dan memercayai kami dan mungkin akan menerima saja jawaban itu, tapi kami tidak ingin ia begitu seumur hidup. Dia dan adik perempuannya harus tumbuh menjadi orang-orang yang cerdas, terutama setelah orangtua mereka nanti menua dan mulai kehilangan kemampuan fokus, apalagi orang lanjut usia sangat keras kepala. Jadi, kami membuat "kotak observasi"; kami taruh sepotong lasagna di dalam kotak Tupperware tembus pandang, dan tidak kami taruh di kulkas. Setelah beberapa hari, lasgnanya basi, dan kami membiarkannya melihatnya. "Idih! Lasagnanya basi! Jadi itu sebabnya dibuang!" Tepat sekali. Dia benar-benar pintar. Kami sukses sebagai orangtua.

Kami punya dua anak, dan mereka akan tumbuh jadi anak-anak yang sempurna.

Para orangtua pasti tahu kalau anak-anak selalu penuh rasa penasaran. 24 jam seolah tidak cukup untuk membuat eksperimen kecil-kecilan atau menjawab semua pertanyaan anak laki-laki kami. Kami mengajarinya cara berpikir kritis; kalau ia bertanya "kenapa," kami akan tanya balik padanya "menurutmu kenapa bisa begitu?" Dia akan berpikir keras untuk menemukan beberapa kesimpulan, walaupun biasanya ia memang tetap harus dibimbing. Pada suatu malam, saat kami hendak menidurkan bayi perempuan kami, dia memanggil kami dari tempat tidurnya.

"Papa! Mama! Ada suara di lemariku! Apa itu?"

Suamiku terkekeh saat kami mendatangi kamarnya. "Nah, nak, menurutmu itu apa?"

"Itu monster! Atau hantu. Dia mau membawaku!"

"Dimana kau pernah melihat mereka, nak? Apakah kau menonton mereka di berita TV?"

"Yah...tidak. Anak-anak lain yang cerita. Tapi aku tak pernah lihat." Dia mulai berpikir. "Mungkin itu binatang?"

Itu memang lebih memungkinkan daripada hantu, jadi cara berpikirnya sudah benar. Aku menyeletuk, "sayang, kita ada di tempat yang aman sekarang, 'kan?" Detektif kecilku mengangguk. "Jadi, ayo kita lihat ada apa di lemarimu."

Dia turun dari tempat tidur dengan gugup dan berjingkat-jingkat menuju lemarinya. Lemari itu pintunya berupa pintu geser, dan di dalamnya, kami menyimpan pakaiannya serta sebuah meja kecil dengan peralatan prakarya di atasnya. Ketika dibuka, kami melihat cangkir plastik berisi krayon yang rupanya ditaruh terlalu ke pinggir, lalu terjatuh. Batang-batang krayon warna-warni berhamburan di dasar lemari. Kami bangga. Anak lelaki kami mengambil kesimpulan sendiri dengan berani. Dia akan menjadi contoh yang baik untuk adiknya.

Kami punya dua anak, dan mereka brilian.

Pada kesempatan lain, anak kami bertanya, "kenapa kadang-kadang ada bintil-bintil kecil di lenganku?" Kami membiarkannya membuat deduksi berdasarkan situasinya. "Aku biasanya sih cuma duduk

saja, tapi aku kedinginan. Kenapa bintil-bintil muncul?" Kami lalu mengajaknya meneliti hal itu. Dia belum bisa melakukan pencarian rumit di Google, jadi kami membantunya mengetikkan pertanyaannya. Kami lalu menemukan bahwa ketika temperatur menurun, tubuh merinding untuk menciptakan insulasi yang membuat kita merasa hangat. Setelah mendapat jawabannya, dia tidur dengan senang.

Sungguh anak pintar.

Kami punya dua anak, dan mereka sedang dalam proses menjadi orang-orang hebat.

Kali lain, kadang-kadang bertanya saja bukan pilihan terbaik. Pada suatu hari yang cerah, suamiku dan aku membawa anak-anak kami ke taman. Aku sedang menggendong si bungsu ketika anak lelakiku mendadak berlari menghampiri kami dari tempatnya bermain.

"Ada seorang wanita melihatiku terus, tapi aku tidak tahu kenapa."

Kami memeriksa keadaan taman di sekitar kami, tapi kami tak melihat ada wanita yang menatapinya. Mungkin itu cuma orangtua lain yang agak cemas anak mereka sendiri kenapa-kenapa di dekat anak-anak lain, dan itu sebabnya mengapa ia memerhatikan anak kami. Cuacanya cerah, tapi anak kami jelas-jelas ketakutan. Kami bertanya apakah ia mau menyelidikinya, tapi ia tidak mau. Kami dengan bangga memberitahunya bahwa kami senang ia bisa mengenali situasi bahaya dan langsung datang pada kami. Kami lalu meninggalkan taman sambil menjelaskan padanga bahwa terkadang kita tidak bisa menyelidiki sesuatu secara mendalam ketika situasinya tidak aman. Dia tidak senang dengan jawaban itu, jadi kami memberi nasihat mengenai para ilmuwan. Mereka juga kadang tak bisa menemukan informasi yang mereka perlukan, sehingga penelitian tidak bisa dilanjutkan. Kadang, kita memang harus rela tidak mendapat jawaban pasti.

Yah, kami punya dua anak, dan mereka akan jadi orang dewasa yang revolusioner.

Pada suatu malam, anak perempuan kami terserang demam. Dia berkeringat terus saat aku menggendongnya. Anak lelaki kami bertanya mengapa adiknya tidak enak badan. Aku bilang padanya kami tidak yakin, tapi dokter bilang ini akan berlalu. Anak lelaki kami benar-benar sedih. Jadi, aku menaruh anak perempuan kami di ranjang bayinya, dengan kipas angin menyala, dan aku membiarkan anak lelaki kami duduk di dekatnya sambil mengelus-elus rambutnya. "Aku mau tahu kenapa kepalamu sakit, adik kecil, supaya bisa kuobati."

Aku mencoba santai dengan menonton TV, sendirian, karena suamiku sedang ke luar kota. Aku tertidur. Ketika terbangun, aku langsung ke kamar bayi untuk melihat sedang apa anak lelakiku. Ketika hendak masuk, aku melihat kotak perkakas suamiku terbuka dan isinya berceceran di lantai.

Di dalam kamar bayi, anak lelakiku sedang meneliti kenapa adik bayinya demam dan 'kepalanya sakit.' Dia ada di ranjang bayi bersama adiknya.

Dia memegang obeng.

Keadaannya berantakan sekali.

Gara-gara dia, kami tinggal punya satu anak.

"Mama, aku cuma mau lihat kenapa kepala adik kecil sakit. Tapi tidak ada apa-apa di dalamnya."

Tidak apa-apa. Aku orangtua yang baik. Jadi, aku mengatasi sendiri situasinya.
Dan sekarang, aku tidak punya anak.


Nah, gimana guys?? Ngerti nggak ceritanya?? Jadi "Si Mama" di cerita ini menghabisi anaknya sendiri karena anak itu tanpa sengaja ngebunuh adiknya (kan masih kecil guys blom tau apa-apa :v)..
Sekian dulu ceritanya hari ini, and I'll see you guys in the upcoming stories!!


Calvin K - IXC

Source : Reddit Scary Stories
             Creepypasta Indonesia

Jumat, 04 September 2015

Yo, What's Up.. Welcome Back.
Satpam Memang Ga Asing.. Ada Satpam yang Ngeselin! Ada juga yang Bersahabat..
Kalau Satpam yang Ini? Simak Ceritanya
                                        Hanya Karna Pen?
Malam ini, Tugasku sangat menumpuk, aku harus mengerjakannya di kampusku, agar saat pulang rumah aku bisa tidur dengan pulas tanpa ada hambatan, aku ditemani temanku.. Diana, Satpam sekolah kami Pak Retno, Bertanya 
"Sudah malam, belum pulang non?" 
                                                        Aku menjawab "Belum pak, tugasnya banyak nih.."
"Ya sudah, bapak berjaga jaga saja disini sampai kalian selesai"
                                                         "Makasih pak.. maaf merepotkan"
Kampusku memang terkenal ankernya, tapi karna kehadiran pak Retno dan sahabatku, aku tidak perlu merasa takut.. Tugasku masih banyak, tapi aku sangat mengantuk..
"Ngantuk non? Saya buatin Teh anget dulu.. Tunggu sebentar tidak apa kan?" Tanya pak Retno
                                                         "Gapapa kok pak.. iya pak, makasih banyak ya"
Beberapa menit kemudian pak Retno kembali, dengan tangan kosong dan muka merah padam, Dia hanya tersenyum menatapku, tapi aku tau.. tatapannya itu kosong tanpa makna..
Tiba-tiba Aku terkejut karna pen temanku jatuh..
"Huh, mengejutkan saja"
Setelah Diana mengambil pennya, ia mulai membereskan barangnya, dengan muka pucat pasi, seperti menahan sesuatu yang mencekam.. Hahh ada ada saja
"Sudah selesai? Cepat banget"
              "Aku pulang dulu.."
"Kenapa emangnya?"
              "Jatuhkan penmu dan kamu akan mengerti, selamat malam"
Ia Berlari kecil sebelum meninggalkanku sendiri dengan lampu redup dan pak Retno
Aku pun menjatuhkan penku, Tapi, kaki satpam itu tidak ada, ia seperti satpam yang melayang seperti dalam film aladin, Aku menahan teriakkanku, dan mencoba tenang, tapi jantungku yang berdetak kencang tidak dapat kutahan lagi.. Aku buru2 membereskan barang2ku dan mulai berjalan dengan tenang sambil berbicara ke pak Retno untuk pamit, tapi sebelum aku mengeluarkan kata kataku, ia berbicara duluan dengan suara kecil dan serak yang hampir tidak dapat ku dengar dengan jelas.
"Sudah selesai? baru jam 11.13 loh ini.."
Rasanya jantungku akan copot, dia tidak memiliki jam di kantung ataupun pergelangan tangannya, dan tidak ada jam di ruangan itu, bagaimana ia bisa tau?
               "Sudah selesai kok pak, saya pamit dulu ya pak, hehe.. makasih"
Belum sempat aku melangkah ia menahan pundakku dan berbisik
"Sudah selesai atau sudah tau?"

Hanzen - IX C
Sumber : Mungkin ini menyeramkan bagimu? 
Hi guys , today i wanna give a story, it's so scary ,#Eaaa.
relax cerita ini memakai bahasa indonesia tadi itu cuma opening- nya.
sekarang saya akan memulai cerita tentang who? .
let's go to read the text .
 who?

Akhir-akhir ini aku sering mengalami insomnia. Awalnya aku beranggapan bahwa penyakit insomniaku ini kambuh karena terlalu sibuknya aku di kantor hingga pulang larut malam. Namun, aku menyadari sesuatu ada yang aneh dengan kondisiku ini.

Pada suatu malam aku terlalu larut pulang ke rumah karena sibuknya pekerjaan di kantor hari itu. Seperti biasa sebelum tidur aku akan melakukan aktivitas rutinku pada malam hari yaitu menonton acara sepak bola yang memang hadir setiap dini hari sambil meminum susu panas. Tiba-tiba ada bisikan halus yang datangnya entah darimana ,,,

"Kembalikan !!! Kembalikan yang bukan milikmu !!!" terdengar suara bisikan

"Apa yang harus ku kembalikan ?" balasku

"Kau sendiri !!!" bisikan itu terdengar mengancam

"Apa maksudmu ?" balasku kembali

Setelah ku membalas kembali bisikan itu , semuanya menjadi hening. Aku begitu ketakutan akan hal itu, tetapi aku ingat sesuatu bahwa kakekku sedang sakit parah di rumah sakit. Sebelum sakit parah ia sempat memberiku sebuah cincin dengan ukiran aneh yang terlihat seperti mantra.

"Apa itu suara kakekku ? Apa yang dimaksudnya cincin itu ?" pikirku
Keesokan harinya aku pun datang membesuk kakekku di rumah sakit. Disana terlihat nenekku dan saudara-saudariku. Matanya terlihat sembab dan nampak shock. Kemudian aku bertanya ,,,

"Ada apa nek?" tanyaku

"Kakekmu dalam kondisi kritis !!!" jawabnya khawatir

"Oh tidak , aku harap kakek baik-baik saja !" jawabku

"Nenek harap juga begitu !" jawabnya

"Nek bolehkah aku melihat kondisi kakek ?" pintaku

"Boleh , tetapi mungkin hanya sebentar saja !" ujarnya

"Baiklah nek , aku kangen sekali dengan kakek !" ujarku

Aku pun bergegas memasuki ruangan kakekku dirawat dan aku sangat sedih melihat kondisinya yang kurus kering. Ku belai rambutnya dan ku cium keningnya , tiba-tiba ia terbangun dan melotot tajam ke arahku ,,,

"Kembalikan aku kek , aku sangat menderita seperti ini !" ucapnya lirih

"Tidak nak , aku lebih suka dengan tubuh ini , tampak muda !" jawabku tegas

"Tidak kek , aku tidak mau !!!" teriaknya

Aku pun tersenyum puas.

end

- WINSTON NG -  IX C
Narasumber : CREEPY PASTA IND


Selasa, 01 September 2015

Hey everyone, tonight i'll tell you a creepy story that will give you a nightmare. Don't worry, ceritanya pakai bahasa indonesia kok bukan inggris. Sekilas saja, ini bercerita tentang kekuatan pikiran yang mampu mencelakai orang lain, mendapatkan sesuatu, atau membuat sesuatu hal yang tidak mungkin, seperti makhluk hidup(?), tentu biasanya hanya akan ada di dalam pikiran kita. Tapi, bagaimana jika apa yang kita pikirkan itu keluar dari pikiran dan menjadi hidup tanpa kita sadari.... :O


Makhluk Ciptaan Pikiran


            Aku bukan pencita hal yang mistis, tidak seperti Roge adikku. Di hidupnya yang aneh, dia tahu berbagai macam buku, permainan, tempat yang pokoknya judulnya mistis. Kali ini ia memberitahuku cara membuat makhluk hidup ciptaan pikiran. Aneh-aneh saja adikku satu ini.
            “Iya, aku akan mencobanya. Caranya memang agak susah. Tapi aku pasti bisa. Aku akan membuat anjing. Nanti, aku kasih nama Orge,” katanya di suatu pagi. Aku yang tidak beminat mendengar khayalannya hanya bisa mengiyakan.
            “Terserah. Tapi jangan sangat mengganggu kehidupan orang lain.”
            “Tenang, aku buatnya di kehidupanku sendiri, pas tidur.”
            Aku hanya mengangguk, benar-benar, bagaimana ia bisa menjadi adikku? Hari berganti hari. Ada hal yang tidak biasa di kamar yang ku tempati bersama adikku. Bayangan hitam yang berada di luar jendala kamar. Kamarku berada di lantai 2 dan tidak mungkin juga itu bayangan pohon. Bayang itu mirip anjing, ya anjing herder tepatnya. Segera ku tanya adikku.
            “Proyekmu berhasil?”
            “Proyek apa?”
            “Yang kau bilang beberapa hari yang lalu.”
            “Oh itu, iya donk. Kok kakak bisa lihat? Kayaknya cuma ada 2 orang yang bisa lihat dia. Ah… Kakak pasti lihat prosesnya ya??”
            “Kamu ini, ya enggaklah. Kok katamu ada 2 orang?”
            “Iya kak. Di dunia ini, sangat mungkin 2 orang bahkan lebih bisa memikirkan hal yang sama dan pada saat yang sama.”
            “Jadi kalian berdua penciptanya. Berarti cuma ada 1 anjing. Kok dia bisa ada sama kamu?”
            “Pencipta yang kedua itu jahat. Untung aku berhasil menyelamatkannya. Ia berencana membunuh Orge. Kalau kakak tanya kok kandangnya ada di luar jendela karena kamar kita sempit.”
            Aku tetap bingung meskipun sudah dijelaskan panjang lebar. Akhirnya ku putuskan dia hanya mengarang indah dan segera melupakannya. Ternyata kejadian aneh tidak hanya sampai di situ. Pada suatu malam, aku memimpikan suatu hal yang berkaitan dengan Orge. Di mimpiku, aku sedang berada di kamarku. Cahaya sangat minim di sana, tapi aku bisa melihat adikku sedang memeluk Orge dengan sangat sedih. Tiba-tiba terdengar suara tembakan.
            DOR
            Aku kaget bukan main. Segera aku teriak memanggil adikku. Dengan suara berbisik ia meminta ku tetap tenang, atau mungkin orge, anjing yang melas itu untuk tenang. Kembali terdengar suara tembakan.
DOR
Orge segera melepaskan diri dan berlari keluar jendela. Jangan tanya mengapa ia keluar. Segera setelah ia keluar, menyusul suara tembakan dan suara tawa seoraang pria dengan agak berat. Segera aku menutup mukaku dengan bantal.
Aku terkejut, saat aku membuka mata, bantal yang seharusnya ada di mukaku, sekarang ada di bawah kepalaku dan hari pun sudah pagi. Ku kira ini hanya mimpi anehku. Tapi saatku lihat adikku, ia tampak sedih dan lemas. Aku masih takut melihat jendela. Jadi aku segera mengambil handuk dan mandi.
“Andi, Roge, ayo cepat!” Seru ayah kami dari depan rumah. Saat hendak menghampiri ayah, aku melihat pembantu kami Pak Bemtun sedang mengelap jendela kami.
“Tumben ngelap jendela kamar kami, Pak Bem.”
“Iya ada bercak darah agak banyak.” Katanya sambil terus mengelap.
“Darah?” Aku amat heran.
“Iya, darah hewan kayaknya.”
“Ooo…” Seru sambil berusaha menyembunyikan rasa terkejutku dan segera menaiki motor ayahku. Selama perjalanan aku merasa antara bingung dan kosong. Aku tidak mengerti.

Natasya Citra - IXC
Narasumber: Suatu tulisan dalam buku tua